NPCI Kota Bandung Tetap Optimistis Hadapi Keterbatasan Anggaran Peparda
- 14 Sep 2026 18:38 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Kota Bandung terus mematangkan persiapan menghadapi Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) Jawa Barat 2026. Meskipun menghadapi keterbatasan anggaran, semangat atlet dan pelatih dari berbagai cabang olahraga tetap menjadi modal penting untuk meraih prestasi terbaik.
Ketua Umum NPCI Kota Bandung, Yadi Sofyan, mengatakan pihaknya telah melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap 10 cabang olahraga. Kegiatan tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan persiapan atlet, sekaligus menyerap aspirasi dan kendala yang dihadapi masing-masing cabor menjelang pertandingan.
"Saya sudah 10 cabor keliling, paling tinggal menyisa tujuh mungkin sekarang. Alhamdulillah, dari semua, walaupun kondisi sekarang yang tidak baik-baik saja, morat-marit dalam segi keuangan anggaran, tapi banyak di antara mereka tetap semangat," ujar Yadi.di Kantor NPCI,jalan Pajajaran ,Kota Bandung.Senin 14 September 2026.

Menurut Yadi, hasil monev menunjukkan bahwa sebagian besar atlet dan pelatih masih memiliki tekad kuat untuk memberikan kontribusi bagi Kota Bandung. Kondisi tersebut menjadi alasan bagi pengurus NPCI untuk tetap menjaga optimisme meskipun dukungan anggaran belum sesuai dengan kebutuhan persiapan.
"Kita tetap optimistis bisa memberikan yang terbaik untuk Kota Bandung," katanya.
Yadi mengakui, persoalan anggaran menjadi salah satu tantangan utama yang dirasakan atlet dan pelatih dalam persiapan Peparda kali ini. Keterbatasan dukungan pembiayaan dinilai berpengaruh terhadap kenyamanan dan konsentrasi atlet dalam menjalani program latihan.
"Keluhan-keluhan dari atlet ya wajar. Saya juga yang mengalami atlet dari tahun 2004 sampai sekarang, mungkin kondisi Kota Bandung sekarang ini, kondisi yang menjelang Peparda itu yang sangat-sangat dalam segi keuangan sangat-sangat kurang, sangat-sangat minim," tuturnya.
Ia kemudian membandingkan kondisi anggaran Peparda sebelumnya di Kabupaten Bekasi dengan persiapan Peparda Kota Bandung saat ini. Pada penyelenggaraan sebelumnya, kontingen Kota Bandung disebut mendapatkan dukungan anggaran sekitar Rp11 miliar.
"Dibanding dengan kemarin aja yang zaman Kabupaten Bekasi, itu Rp11 miliar. Kita sekarang dengan anggaran murni cuma Rp7,5 miliar. Selisihnya jauh banget," kata Yadi.
Menurutnya, perbedaan anggaran tersebut menjadi tantangan tersendiri karena Kota Bandung kini berstatus sebagai tuan rumah Peparda. Terlebih, target yang dibebankan kepada kontingen Kota Bandung tidak ringan, yakni mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi hingga menjadi juara umum.
"Padahal kita tuan rumah. Dikasih Rp11 miliar aja juara ketiga waktu itu, peringkat ketiga. Sedangkan kita Rp7,5 miliar dituntut juara satu," ujarnya.
Kendati demikian, Yadi menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh memadamkan semangat perjuangan atlet. Ia memilih untuk tetap mendorong seluruh kontingen agar fokus pada persiapan dan memberikan kemampuan terbaik saat pertandingan berlangsung.
"Tapi tetap, kondisi apa pun saya tetap masih optimistis, saya tetap bertekad, saya tetap semangat untuk memberikan yang terbaik untuk Kota Bandung," tegasnya.
Dari hasil monitoring terhadap 10 cabor, Yadi menilai kesiapan atlet secara umum telah mencapai lebih dari 90 persen. Persiapan tersebut mencakup aspek fisik, strategi pertandingan, hingga kesiapan mental menghadapi persaingan di Peparda.
"Ya sebenarnya mah mereka itu udah lebih dari 90 persen kalau dilihat dari kemarin. Tapi setelah ada kabar yang kurang bagus kemarin, ya mungkin dari anggaran yang sangat minim, otomatis psikologi mereka juga terganggu," ungkapnya.

Untuk menjaga mental atlet, Yadi berupaya menyampaikan kondisi yang sebenarnya kepada para atlet dan pelatih. Ia menekankan bahwa keterbatasan anggaran bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah atau pengurus NPCI Kota Bandung.
"Kita sampaikan apa adanya kondisi sekarang. Ini juga bukan kehendak kita, bukan pengurus NPCI tidak mau berusaha, bukan dari Bapak Wali yang tidak perhatian, Dispora tidak perhatian, atau DPRD tidak perhatian," jelasnya.
Yadi menyebutkan, perhatian terhadap pembinaan olahraga disabilitas tetap ada dari berbagai pihak. Namun, kondisi keuangan daerah yang sedang dihadapi membuat dukungan anggaran belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan kontingen.
"Semuanya kalau menurut saya perhatian ke NPCI Kota Bandung. Tapi karena kondisi yang sekarang emang tidak baik-baik saja, mungkin ini yang harus kita terima dan harus kita syukuri," katanya.
Dalam memberikan motivasi, Yadi juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai atlet. Ia pernah menjalani perjalanan panjang dari tingkat paling dasar hingga menjadi atlet internasional, sehingga memahami tantangan yang dihadapi atlet sebelum mencapai prestasi.
"Saya sampaikan pengalaman saya sebagai atlet, dari mulai saya atlet nol, atlet tingkat RT sampai atlet internasional, kondisinya seperti apa. Ini kan bukan rekayasa karena saya ngalamin sendiri," tuturnya.
Yadi menjelaskan bahwa perjalanan seorang atlet menuju prestasi tidak selalu mudah. Dalam banyak kesempatan, atlet harus mengeluarkan biaya pribadi untuk mengikuti pertandingan, termasuk kebutuhan transportasi dan pendampingan.
"Kalau atlet sebelum berprestasi itu kan mengeluarkan. Kita itu kalau pengen modal heula. Apalagi kalau misalnya di catur, saya ikut turnamen, ikut turnamen itu kan biaya sendiri," ungkapnya.
Sebagai atlet tuna netra, ia juga merasakan langsung kebutuhan pendamping ketika mengikuti pertandingan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari edukasi yang disampaikannya kepada atlet NPCI Kota Bandung agar memahami proses panjang pembinaan olahraga prestasi.
"Apalagi kalau saya tuna netra, ikut turnamen itu kan nggak bisa saya berjalan sendiri. Saya harus ngambil orang atau bayar orang untuk ngantar kita turnamen," ujarnya.
Yadi berharap para atlet dapat memahami bahwa prestasi membutuhkan perjuangan, pengorbanan, dan proses pembinaan yang berkelanjutan. Ia juga menekankan bahwa penghargaan akan mengikuti prestasi yang berhasil diraih atlet.
"Saya kasih motivasi kepada mereka, mudah-mudahan paham. Sedikit-sedikit kita edukasi mereka bahwa olahraga prestasi itu ketika ada reward itu kalau ada prestasi," katanya.
Selain menjaga semangat atlet, Yadi berharap pemerintah dapat mencari solusi tambahan untuk memenuhi kebutuhan kontingen. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah besaran uang saku dan transportasi atlet yang dinilai belum memadai untuk mendukung persiapan Peparda.
"Saya juga bermohon kepada Bapak Wali atau pemerintah terkait, mungkin ada solusi lain kalau dari hibah kan nggak mungkin, untuk tambahan kepada mereka. Jangan sampai uang saku, uang transport itu di Rp300 ribu," harapnya.
Ia menilai besaran uang transportasi tersebut sangat minim apabila dibandingkan dengan kebutuhan atlet selama mengikuti rangkaian persiapan dan pertandingan. Karena itu, NPCI Kota Bandung berharap adanya dukungan dari sumber pendanaan lain, termasuk tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
"Itu kurang manusiawi, kalau menurut saya sangat-sangat kurang," tegas Yadi.
Terkait aspirasi yang disampaikan atlet, Yadi menegaskan bahwa NPCI Kota Bandung akan terus berupaya memperjuangkannya. Namun, ia memilih tidak memberikan janji yang belum tentu dapat direalisasikan, melainkan menyampaikan kondisi secara terbuka kepada seluruh kontingen.
"Ya kita berupaya, tentunya kan kita berupaya. Karena kalau bagi saya, saya nggak mau mudah janji seperti yang kemarin-kemarin. Ketika nggak bisa, tapi kan kita tetap berupaya," jelasnya.
Ia berharap upaya pemerintah Kota Bandung dalam mencari tambahan dukungan melalui CSR dapat membuahkan hasil. Menurutnya, dukungan tersebut sangat dibutuhkan agar atlet dapat menjalani persiapan dengan lebih tenang dan fokus menghadapi Peparda.
"Kita sampaikan kepada mereka juga dengan apa adanya. Mudah-mudahan upaya kita, upaya Pak Wali kemarin yang udah disampaikan oleh Sekdis juga untuk mencari tambahan di CSR, mudah-mudahan bisa berhasil," katanya.
Dari 10 cabor yang telah dimonitor, Yadi menyebut cabang olahraga judo menjadi salah satu yang paling berkesan. Ia mengapresiasi sikap kritis para atlet judo yang berani menyampaikan aspirasi dan harapan secara langsung kepada pengurus NPCI Kota Bandung.
"Yang berkesan itu di judo. Judo itu anak-anaknya kritis, bagus. Tapi kan dia menyampaikan harapan, ya wajar bagi saya," ujar Yadi.
Ia menilai sikap kritis atlet merupakan bagian dari dinamika pembinaan olahraga. Selama aspirasi disampaikan dengan baik, pengurus tetap dapat berdialog dan mencari jalan keluar bersama.
"Toh udah selesai mah dia juga baik-baik saja. Kita bersalaman, kita ngobrol biasa aja," tandasnya.

Sementara itu,pada kegiatan Monev ke Cabor blind Judo.Ketua Umum NPCI ,Yadi Sofyan memperkenalkan Manajer blind judo Peparda VII 2026 Zulkarnaen atau Bang Joel.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....