Petani Penggarap Lahan di Belu Melakukan Alih Fungsi Lahan Terkendala Ternak

  • 29 Jul 2026 13:58 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Warga tani penggarap lahan basah persawahan di Kelurahan Umanen, Kabupaten Belu, terus mengoptimalkan lahan pertanian mereka dengan melakukan alih fungsi lahan setelah musim panen padi. Lahan sawah yang sebelumnya ditanami padi kembali dimanfaatkan untuk budidaya berbagai jenis tanaman sayuran, sehingga mampu meningkatkan hasil dan pendapatan petani.

Salah satu petani penggarap di RT 32 Kelurahan Umanen, Feldelina Bunga, mengaku telah menerapkan pola tanam tersebut setiap tahun. Menurutnya, setelah panen padi selesai, lahan sawah tidak dibiarkan kosong, melainkan langsung diolah kembali untuk ditanami sayuran seperti kangkung, sawi, dan tomat.

Saat ditemui rri.co.id di lokasi kebunnya, Rabu 29Juli 2026, Feldelina mengatakan bahwa untuk satu pematang lahan dibutuhkan sekitar empat kilogram benih kangkung. Ketersediaan sumber air dari aliran kali di sekitar lokasi menjadi faktor utama yang mendukung keberhasilan budidaya sayuran tersebut.

"Hasil panen sayuran sudah dijual. Sayuran dijual ke pasar, kadang ada pengepul datang membeli langsung di bedeng. Hasilnya lumayan, selain panen padi kami juga memperoleh tambahan penghasilan dari panen sayur. Daripada tanah dibiarkan menganggur, lebih baik dimanfaatkan," ujarnya.

Menurut Feldelina, pola tanam bergilir antara padi dan sayuran memberikan keuntungan yang cukup besar bagi petani. Selain memaksimalkan pemanfaatan lahan, petani juga memperoleh pendapatan tambahan dalam waktu yang relatif singkat dari hasil panen sayuran.

Namun demikian, aktivitas pertanian tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, terutama gangguan ternak sapi yang kerap masuk ke area kebun dan merusak tanaman. Daun hingga batang tanaman kangkung yang sudah siap dipanen sering dimakan ternak sehingga menyebabkan petani mengalami kerugian.

"Dikarenakan sudah dimakan ternak, tanaman akhirnya dibiarkan dan tidak dirawat lagi sehingga pertumbuhannya tidak optimal dan tidak bisa dipanen," jelasnya.

Ia mengungkapkan, puluhan ekor sapi yang diduga berasal dari wilayah Raimaten sering dilepas bebas hingga masuk ke lahan pertanian warga. Meski kebun telah dipagari, ternak masih mampu menerobos masuk dan merusak tanaman.

"Sapi masuk kebun jadi hasil kurang bagus. Ternak sapi milik orang dari lingkungan Raimaten dilepas hingga puluhan ekor. Pagar juga ditembus. Kami sudah melapor ke RT tetapi masih terus terjadi. Akhirnya kami memasang jerat. Kalau sapi tertangkap, disembelih dan dagingnya dibagi sebagai bentuk denda kepada pemilik ternak," katanya.

Feldelina menilai persoalan tersebut bukan hanya terjadi sekali, melainkan berulang kali. Ia menduga masih ada oknum pemilik ternak yang sengaja melepas sapi untuk mencari pakan tanpa memperhatikan dampaknya terhadap lahan pertanian warga.

Menurutnya, berbagai laporan telah disampaikan kepada pihak RT setempat, namun hingga kini belum ada solusi yang efektif untuk mencegah ternak memasuki area kebun. Sebagai langkah antisipasi, warga akhirnya memasang jerat di sejumlah titik yang sering dilalui ternak.

Dalam beberapa bulan terakhir, beberapa ekor sapi diketahui telah terjerat. Sesuai kesepakatan warga, ternak yang tertangkap kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan kepada pemilik kebun sebagai bentuk penggantian atas kerugian akibat tanaman yang rusak.

Para petani berharap pemerintah kelurahan bersama pihak terkait dapat segera mencari solusi yang adil agar aktivitas budidaya pertanian dapat berlangsung dengan aman. Dengan perlindungan terhadap lahan pertanian, petani optimistis pemanfaatan sawah pascapanen padi untuk budidaya sayuran akan terus meningkatkan produktivitas serta mendukung ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat di Kabupaten Belu

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....