Petani di Belu Bertahan ditengah Kemarau, Manfaatkan Sisa Air Kali

  • 05 Agt 2026 17:27 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Memanfaatkan sisa ketersediaan air di aliran kali, warga tani penggarap lahan di Kelurahan Umanen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap mampu bekerja produktif dengan membudidayakan berbagai jenis sayuran di tengah musim kemarau panjang.

Memasuki Agustus, debit air di sejumlah aliran kali mulai menurun. Kondisi tersebut membuat sebagian besar petani kesulitan mengolah lahan karena terbatasnya sumber air untuk irigasi. Akibatnya, banyak lahan pertanian yang dibiarkan tidak digarap hingga musim hujan kembali tiba.

Namun, sejumlah petani di Kelurahan Umanen memilih mencari solusi agar lahan tetap produktif. Mereka membuat sumur resapan sederhana di tepi kali untuk menampung sisa air yang masih tersedia. Air tersebut kemudian dipompa menggunakan mesin guna mengairi tanaman sayuran.

Salah seorang petani, Agustinus, mengatakan lahan miliknya yang berada di bantaran kali masih memungkinkan ditanami sayuran selama debit air belum sepenuhnya mengering.

"Lahan kebetulan di bantaran kali bisa dimanfaatkan untuk sayur. Kalau bulan Agustus masih ada sedikit air, kami gali sumur kecil kemudian dipompa pakai mesin untuk menyiram tanaman," kata Agustinus saat ditemui di kebunnya, Rabu 5 Agustus 2026.

Di lahan tersebut, Agustinus membudidayakan berbagai jenis sayuran seperti kangkung, sawi, tomat, dan bawang. Setelah memasuki masa panen, hasilnya dijual ke pasar lokal di Kota Atambua sebagai sumber tambahan pendapatan keluarga.

Menurutnya, ketersediaan air di aliran kali diperkirakan hanya mampu bertahan satu hingga dua bulan ke depan. Setelah itu, sumber air biasanya mengering sehingga aktivitas bercocok tanam harus dihentikan hingga musim hujan tiba.

Meski demikian, budidaya sayuran tetap membutuhkan modal yang tidak sedikit. Petani harus membeli benih, pupuk, pestisida, serta menanggung biaya operasional berupa pembelian bahan bakar minyak (BBM) untuk mengoperasikan mesin pompa air.

"Kalau pupuk kami terbantu karena tergabung dalam kelompok tani, jadi bisa membeli pupuk subsidi. Pengeluaran tambahan paling untuk beli BBM mesin sedot air. Itulah pekerjaan petani," ujarnya.

Meski keuntungan yang diperoleh tidak besar, Agustinus mengaku hasil penjualan sayuran cukup membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga selama musim kemarau.

Pantauan rri.co.id, lahan sayuran yang berada tepat di belakang minimarket Alfamart Kelurahan Umanen tampak terawat dengan baik. Berbagai tanaman seperti kangkung, sawi, tomat, dan bawang tumbuh subur di atas bedengan. Sebagian tanaman bahkan telah memasuki masa panen dan siap dipasarkan ke pasar tradisional di Kota Atambua.

Upaya yang dilakukan para petani tersebut menjadi bentuk adaptasi menghadapi kemarau panjang yang setiap tahun melanda Kabupaten Belu. Dengan memanfaatkan sisa air di aliran kali melalui sumur resapan sederhana, mereka mampu menjaga lahan tetap produktif sekaligus memperoleh tambahan penghasilan untuk menopang ekonomi keluarga di tengah keterbatasan sumber air.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....