Warga Korbau Belu Alami Krisis Air Bersih saat Kemarau Panjang

  • 02 Okt 2026 06:35 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Kekeringan panjang yang melanda Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, turut dirasakan warga Dusun Korbau, Desa Leosama, Kecamatan Kakuluk Mesak. Kondisi tersebut menyebabkan sekitar 28 kepala keluarga di wilayah itu mengalami krisis air bersih yang berlangsung dari tahun ke tahun.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, mandi dan mencuci, warga selama ini mengandalkan sumur gali yang berada di sekitar permukiman. Namun, saat musim kemarau berkepanjangan, debit air sumur terus berkurang bahkan mengering.

Kondisi itu membuat warga terpaksa mencari sumber air hingga ke tengah hutan dengan membawa jerigen untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Salah seorang warga Dusun Korbau, Nasus Bere, mengatakan, krisis air bersih sudah menjadi persoalan yang mereka hadapi setiap tahun, terutama ketika memasuki puncak musim kemarau pada September hingga Oktober.

“Cukup menderita selama ini, air sulit sekali. Satu sumur, tetapi musim kemarau mengering. Membawa jerigen harus menimba jauh ke hutan. Kadang pesan mobil tangki air dengan harga Rp250 ribu,” kata Nasus Bere, Kamis 1 Oktober 2026.

Menurutnya, membeli air melalui mobil tangki juga bukan solusi yang mudah. Selain harga yang cukup mahal bagi warga, air yang dipesan tidak dapat langsung diantar karena harus menunggu hingga satu sampai dua minggu.

Kondisi tersebut membuat warga harus menghemat penggunaan air untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Di sisi lain, akses jalan menuju permukiman yang masih rusak turut menjadi kendala dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Sekretaris Desa Leosama, Servasius Koli, mengatakan terdapat tiga dusun di wilayah Desa Leosama yang tercatat paling terdampak krisis air bersih, salah satunya Dusun Korbau.

Ia menjelaskan, Pemerintah Desa Leosama sebelumnya telah berupaya membantu warga melalui dukungan anggaran desa. Pada 2024, pemerintah desa memberikan bantuan tempat penampungan air serta melakukan pengadaan air bersih, khususnya ketika memasuki puncak musim kemarau.

“Dua tahun lalu, belum ada efisiensi, kita bantu viber penampung juga pengadaan air bersih. Khusus di puncak kemarau ada juga bantuan dari Dinas PUPR Belu. Untuk saat ini menjadi sulit karena terbentur anggaran,” kata Servasius Koli.

Ia mengungkapkan, kondisi warga Dusun Korbau semakin sulit ketika memasuki musim kemarau panjang. Pemerintah desa bersama pemerintah kecamatan kini melakukan pendataan terhadap masyarakat yang membutuhkan bantuan air bersih.

“Pemerintah kecamatan mulai mendata untuk beri bantuan. Kita fokus ke Korbau juga,” ujarnya.

Servasius mengatakan, salah satu upaya pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan krisis air bersih adalah melalui program penyediaan sumur artesis yang dibangun di sejumlah desa di Kabupaten Belu.

Desa Leosama menjadi salah satu wilayah yang masuk dalam rencana intervensi penyediaan sumber air bersih tersebut, dengan Dusun Korbau menjadi salah satu lokasi yang diharapkan mendapatkan manfaat program.

Namun, upaya pengeboran sumur artesis yang sebelumnya dilakukan Dinas PUPR Kabupaten Belu di wilayah tersebut belum membuahkan hasil. Pekerjaan pengeboran sempat dilakukan, tetapi terkendala persoalan teknis karena tidak menemukan sumber mata air yang dapat dimanfaatkan.

Pekerjaan tersebut kemudian dihentikan dan hingga kini warga Dusun Korbau masih mengandalkan sumber air yang tersedia secara terbatas.

Warga berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan krisis air bersih, sehingga masyarakat tidak terus-menerus bergantung pada sumur gali, mencari air hingga ke hutan, maupun membeli air tangki dengan biaya yang cukup besar.

Terlebih, kekeringan yang terjadi setiap tahun membuat persoalan air bersih bukan lagi kondisi sementara, melainkan kebutuhan mendasar yang harus mendapat penanganan berkelanjutan dari pemerintah

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....