Kawasan Sonis Laloran Menjadi Lokasi Pengembangan Populasi Sapi di Belu
- 02 Okt 2026 06:37 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Kawasan Peternakan Sonis Laloran yang berada di Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, terus dikembangkan sebagai pusat pengembangan dan kawasan peternakan terpadu, khususnya untuk ternak sapi.
Kawasan tersebut memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan peternakan sekaligus peningkatan populasi ternak sapi di Kabupaten Belu.
Hingga Agustus 2026, tercatat sebanyak 53 ekor sapi telah berkembang di kawasan peternakan Sonis Laloran. Populasi tersebut merupakan hasil pengembangan dari bantuan ternak pemerintah pusat dan kepemilikan peternak setempat.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Belu, Yoos Djami, mengatakan, awalnya terdapat 18 ekor sapi bantuan pemerintah pusat dan 23 ekor sapi milik peternak. Melalui proses pengembangbiakan, jumlah tersebut kini bertambah menjadi 53 ekor.
“Posisi sekarang ada 53 ekor sapi. Sudah ada peningkatan beberapa ekor, termasuk dari bantuan pusat. Untuk sapi cukup baik perkembangannya karena pemantauan langsung, baik untuk pakan maupun layanan kesehatan dan vaksin,” kata Yoos Djami, Kamis 1 Oktober 2026.
Menurutnya, perkembangan ternak di kawasan Sonis Laloran terus dipantau untuk memastikan kondisi kesehatan dan produktivitas sapi tetap terjaga. Pengawasan dilakukan mulai dari ketersediaan pakan hingga pelayanan kesehatan dan vaksinasi ternak.
Selain pengembangan populasi sapi, Pemerintah Kabupaten Belu melalui Dinas Peternakan dan Perikanan juga berupaya menjamin ketersediaan pakan bagi ternak, terutama menghadapi musim kemarau.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah penanaman berbagai jenis hijauan pakan ternak di kawasan pengembangan peternakan Sonis Laloran.
Yoos Djami mengatakan, beberapa jenis tanaman yang mulai dikembangkan antara lain rumput odot, rumput pakchong dan lamtoro.
“Kita baru-baru ini melakukan penanaman jenis rumput odot dan pakchong, juga lamtoro. Tanaman atau hijauan ini untuk ternak ruminansia,” ucapnya.
Ia menjelaskan, rumput odot merupakan salah satu jenis rumput gajah yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Sementara rumput pakchong juga menjadi salah satu hijauan yang dikembangkan karena memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk ternak ruminansia seperti sapi, kambing, domba dan kerbau.
Penyediaan hijauan tersebut dinilai penting mengingat kondisi padang penggembalaan di Kabupaten Belu semakin terbatas ketika memasuki musim kemarau panjang.
“Musim kemarau lahan penggembalaan semakin sempit, rumput ilalang mengering. Ini menjadi kendala peternak. Selain rumput, bisa lamtoro, gala-gala atau hijauan lainnya,” katanya.
Program pengembangan hijauan pakan ternak di kawasan Sonis Laloran menjadi salah satu langkah Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Belu dalam mendorong ketersediaan pakan secara berkelanjutan.
Menurut Yoos Djami, ketersediaan pakan menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan populasi dan produktivitas ternak. Karena itu, penanaman hijauan dilakukan agar peternak tidak sepenuhnya bergantung pada rumput alami yang ketersediaannya sangat dipengaruhi kondisi musim.
Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga ketersediaan pakan, terutama ketika terjadi kemarau panjang, sehingga kebutuhan pakan ternak tetap dapat terpenuhi dan perkembangan populasi sapi di kawasan Peternakan Sonis Laloran dapat terus meningkat.
Pengembangan kawasan Sonis Laloran juga diharapkan menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Belu memperkuat sektor peternakan, meningkatkan populasi ternak sapi serta mendukung ketersediaan ternak secara berkelanjutan di daerah perbatasan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....