Buku Sejarah Ramsai Jadi Warisan untuk Generasi Mendatang

  • 26 Agt 2026 20:58 WIB
  •  Waykanan

RRI.CO.ID, Way Kanan - Kampung Ramsai, Kecamatan Way Tuba, Kabupaten Way Kanan, menyempurnakan buku sejarah kampung sebagai dokumentasi perjalanan desa. Buku tersebut memuat sejarah Ramsai sejak masa persiapan hingga perkembangan kepemimpinan dari masa ke masa.

Kepala Kampung Ramsai, Hendrik Purnama, mengatakan penyusunan buku diawali melalui musyawarah bersama BPK dan tokoh masyarakat. Penyusunan itu berlandaskan SK Gubernur yang menetapkan Ramsai sebagai kampung definitif pada 18 September 1987.

“Sebelumnya Kampung Ramsai merupakan kampung persiapan dari 1980 hingga 1982,” ujar Hendrik, Selasa, 25 Agustus 2026. Ramsai saat itu merupakan pecahan dari Kampung Way Tuba sebelum ditetapkan sebagai kampung definitif.

Hendrik menjelaskan, masyarakat Ramsai juga memiliki tradisi Pesik Kampung atau doa bersama setiap Muharram. Tradisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menetapkan 24 Muharram atau 24 Suro sebagai hari jadi kampung.

“Setiap tanggal 24 Muharram atau 24 Suro merupakan hari jadinya Kampung Ramsai,” katanya. Penetapan tersebut dilakukan dengan mengonfirmasi tanggal 18 September 1987 melalui kalender Jawa dan kalender Islam.

Hendrik menyebut, buku sejarah Ramsai pertama kali diluncurkan saat peringatan hari jadi ke-39 pada 2025. Peluncuran tersebut dihadiri Bupati Way Kanan, sejumlah organisasi perangkat daerah, camat, dan kepala kampung.

Saat ini, buku tersebut telah memasuki revisi kedua dengan sejumlah penyempurnaan dan tambahan. Di antaranya kata pengantar dari Gubernur Lampung serta sejumlah tokoh masyarakat dan jajaran pemerintahan.

“Dengan buku ini, saya berharap anak cucu nanti mengetahui perjuangan para tokoh Ramsai,” ucap Hendrik. Menurutnya, perkembangan Ramsai hingga saat ini merupakan hasil perjuangan masyarakat dan tokoh terdahulu.

Ia berharap seluruh masyarakat dapat menjaga dan merawat Ramsai agar tetap lestari, tenteram, dan aman. Hendrik menilai seluruh masyarakat Ramsai merupakan bagian dari pelaku sejarah kampung.

“Kita semuanya pelaku sejarah, dan suatu saat nanti akan berganti dengan generasi selanjutnya,” katanya. Karena itu, keberadaan buku sejarah dinilai penting agar fondasi Kampung Ramsai tercatat secara nyata.

Hendrik berharap buku tersebut dapat menjadi warisan sejarah yang bertahan hingga generasi berikutnya. Dokumentasi itu diharapkan menjaga identitas Ramsai agar tidak hanya dikenal melalui cerita, tetapi memiliki catatan sejarah tertulis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....