Religi Pagi RRI Bahas Hakikat dan Tanggung Jawab Manusia

  • 30 Sep 2026 14:34 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, TARAKAN - Manusia merupakan makhluk paling mulia diciptakan Allah SWT di muka bumi. Namun, kemuliaan tersebut bukanlah sesuatu yang mutlak tanpa syarat, melainkan harus dipertahankan melalui pemenuhan tanggung jawab sebagai hamba dan pengelola bumi (khalifah).

Pengetahuan tersebut disampaikan oleh Ustaz Drs. H. Abdul Basit dalam siaran Religi Pagi Islami bertajuk "Hakikat dan Tanggung Jawab Manusia" di Programa 1 RRI Tarakan.

Dalam tausiahnya, H. Abdul Basit menekankan pentingnya setiap muslim untuk senantiasa merefleksikan empat pertanyaan mendasar dalam kehidupan. "Yakni siapa diri kita, dari mana kita berasal, untuk apa kita diciptakan, dan ke mana tujuan akhir setelah kehidupan di dunia. Ilmu pengetahuan dan akal manusia memiliki keterbatasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar ini secara tuntas. Oleh karena itu, kita harus mengembalikannya kepada ajaran Al-Qur'an," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur'an telah menggariskan manusia diciptakan dalam bentuk yang paling baik (ahsani taqwim). Namun, apabila manusia mengabaikan tujuan penciptaannya, mereka berisiko jatuh ke derajat paling rendah (asfala safilin), lebih hina dari binatang.

Dua Peran Utama Manusia

Abdul Basit menguraikan dua amanah utama yang diemban oleh manusia di dunia. Pertama sebagai hamba Allah ('Abid), manusia diwajibkan untuk mengabdi dan beribadah hanya kepada Allah SWT serta menjaga hubungan vertikal (hablum minallah).

Kedua sebagai pemimpin di bumi (Khalifatullah), manusia diserahi mandat untuk mengelola, memelihara, dan melestarikan alam semesta serta memelihara hubungan horizontal (hablum minannas) dan kepedulian terhadap lingkungan.

"Menjaga lingkungan adalah bagian nyata dari tugas kekhalifahan. Bahkan tindakan sederhana seperti membuang sampah sembarangan merupakan perbuatan berdosa karena dapat merusak ekosistem dan merugikan orang lain," tegasnya.

Keseimbangan Antara Pengamalan Ilmu, Ikhtiar, dan Ketakwaan

Abdul Basit mengingatkan bahwa memiliki pemahaman atau ilmu saja belum cukup jika tidak diiringi dengan pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menyinggung tentang pentingnya keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.

Islam mengajarkan umatnya untuk mengerahkan seluruh potensi, pikiran, dan tenaga secara maksimal sebelum menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT. Berpasrah tanpa adanya usaha yang sungguh-sungguh adalah sikap yang keliru.

Di akhir dialog, ia menegaskan indikator utama keberhasilan dan kemuliaan seorang manusia di hadapan Allah bukanlah diukur dari tingginya harta, jabatan, maupun popularitas, melainkan dari tingkat ketakwaannya.

"Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara untuk mengumpulkan bekal. Mari kita jalankan peran kita sebagai hamba yang taat dan khalifah yang membawa kebaikan bagi sesama dan alam, agar kita selamat di dunia hingga akhirat," pungkasnya. (Bay)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....