Sila Kelima Benteng Kuat Hadapi Narkoba

  • 23 Jun 2026 22:05 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Ajaran Buddha memberikan panduan moral yang sangat kontekstual dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk persoalan narkoba.

Dalam program Mimbar Agama Buddha di RRI Tarakan, dijelaskan bahwa narkoba merusak aspek terdalam manusia yaitu kesadaran. Kehilangan kesadaran merupakan pintu masuk utama menuju berbagai bentuk penderitaan duniawi.

Penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama Kota Tarakan, Aditya Dhammajaya, S.Ag., mengatakan secara spesifik, Pancasila Buddhis telah menyediakan instrumen preventif yang sangat jelas untuk mengantisipasi hal ini. Sila kelima secara tegas melarang umat untuk mengonsumsi segala zat yang dapat melemahkan kejernihan batin. Ketika batin seseorang terjaga, maka ucapan dan perbuatannya akan selalu terarah pada kebajikan.

Ia menguraikan bahwa zat adiktif memicu munculnya tiga akar perbuatan buruk. Ketiganya adalah lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan batin). Narkoba sering kali menawarkan ilusi kebahagiaan sesaat yang menjebak manusia ke dalam penderitaan yang panjang.

Bait suci untuk memperkuat argumen keagamaan tersebut di hadapan umat. "Orang bodoh mengira perbuatan jahat itu manis seperti madu selama akibatnya belum berbuah," ucap Aditya .

Kutipan tersebut menjadi alarm keras bagi siapa saja yang berniat mencoba zat terlarang. Umat Buddha diajak untuk kembali menghidupkan praktik meditasi dan mawas diri sebagai pelindung internal yang kokoh.

Menjaga kesadaran dinilai jauh lebih efektif daripada sekadar pengawasan eksternal yang memiliki banyak celah. Dengan batin yang bersih, setiap individu akan memiliki kemampuan alami untuk menolak godaan narkoba. (Renny)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....