Belajar Bahasa Isyarat Dinilai Penting

  • 17 Mei 2026 10:19 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Bahasa isyarat menjadi salah satu bentuk komunikasi penting bagi penyandang tuli atau gangguan pendengaran. Melalui gerakan tangan, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh, bahasa isyarat membantu seseorang menyampaikan pikiran, perasaan, hingga informasi sehari-hari secara lebih mudah dan efektif.

Banyak masyarakat masih mengira bahasa isyarat bersifat universal. Padahal, setiap negara memiliki sistem bahasa isyarat yang berbeda. Di Indonesia sendiri dikenal Bahasa Isyarat Indonesia atau BISINDO, serta Sistem Isyarat Bahasa Indonesia atau SIBI yang digunakan dalam beberapa lingkungan pendidikan formal.

Para pegiat disabilitas menjelaskan bahwa bahasa isyarat bukan sekadar gerakan tangan biasa. Ekspresi wajah, arah pandangan, hingga gerakan tubuh juga memiliki makna penting dalam penyampaian pesan. Karena itu, komunikasi dengan bahasa isyarat memerlukan pemahaman dan latihan agar pesan dapat diterima dengan tepat.

Belajar bahasa isyarat dinilai penting untuk meningkatkan inklusivitas di tengah masyarakat. Dengan memahami dasar-dasar komunikasi isyarat, masyarakat dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi penyandang tuli, baik di sekolah, tempat kerja, maupun layanan publik.

Selain itu, penggunaan bahasa isyarat juga membantu penyandang tuli memperoleh hak yang setara dalam mengakses informasi dan pelayanan. Kehadiran penerjemah bahasa isyarat di berbagai acara publik, siaran berita, hingga layanan pemerintahan menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap aksesibilitas.

Para ahli berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya bahasa isyarat terus meningkat. Sebab, komunikasi yang inklusif tidak hanya memudahkan interaksi, tetapi juga menjadi langkah penting dalam menghargai keberagaman dan hak setiap individu di tengah kehidupan sosial. (RV)

Otot "Ketarik", Apakah Bahaya?

RRI.CO.ID, Tarakan - Banyak orang pernah merasakan sensasi otot “ketarik” secara tiba-tiba yang menimbulkan rasa nyeri saat bergerak. Kondisi ini sering terjadi setelah mengangkat beban, salah posisi saat tidur, berolahraga terlalu berat, atau melakukan gerakan mendadak.

Dokter Zain menjelaskan, kondisi tersebut umumnya terjadi akibat otot atau jaringan tendon mengalami peregangan berlebihan. Saat otot dipaksa bekerja terlalu keras atau bergerak melebihi batas kemampuan, serat-serat kecil pada otot dapat mengalami cedera ringan sehingga muncul rasa nyeri, tegang, dan sulit digerakkan.

Bagian tubuh yang paling sering mengalami otot tertarik antara lain leher, bahu, punggung, pinggang, paha, dan betis. Rasa sakit biasanya muncul saat bagian tubuh tertentu digerakkan, disentuh, atau digunakan untuk beraktivitas.

Selain aktivitas fisik berat, kurang pemanasan sebelum olahraga, tubuh yang kelelahan, duduk terlalu lama, hingga postur tubuh yang buruk juga dapat meningkatkan risiko terjadinya otot tertarik.

Pada kondisi ringan, nyeri otot biasanya dapat membaik dalam beberapa hari dengan istirahat cukup, kompres dingin atau hangat, serta mengurangi aktivitas berat sementara waktu. Peregangan ringan juga dapat membantu otot kembali rileks apabila dilakukan dengan hati-hati. Namun, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke tenaga medis apabila rasa sakit sangat hebat, muncul bengkak, sulit bergerak, atau tidak membaik dalam waktu lama. Hal tersebut bisa menjadi tanda cedera otot yang lebih serius.

Para ahli juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi tubuh dengan rutin berolahraga, melakukan pemanasan sebelum aktivitas fisik, serta memperhatikan posisi tubuh saat bekerja maupun beristirahat agar risiko cedera otot dapat dikurangi. (RV)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....