Dilema Mengejar Cuan dan Menjemput Panggilan Allah
- 16 Mei 2026 17:08 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Keinginan untuk mengumpulkan kekayaan atau "cuan" sering kali menjadi dilema saat dihadapkan pada panggilan ibadah, khususnya haji dan kurban. Fenomena ini menjadi sorotan utama dalam program "Religi Pagi Islam" di RRI Tarakan yang menghadirkan narasumber Ustadz Chandra Wijaya, S.T., M.Ag.
Dalam tausiahnya, Ustadz Chandra menekankan bahwa banyak jemaah sering kali mendahulukan modal usaha dibanding mendaftar haji. Padahal, menurutnya, makna "mampu" (istita'ah) dalam Islam tidak hanya berarti memiliki uang melimpah secara instan, melainkan upaya sungguh-sungguh untuk memenuhi ketaatan.
"Banyak orang merasa tidak mampu karena melihat antrean haji yang mencapai 30 tahun. Ini pemikiran yang dangkal. Tugas kita adalah ikhtiar mendaftar, soal berangkat atau tidak, itu hak prerogatif Allah," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada sejarahnya seseorang menjadi miskin setelah mendaftar haji, karena Allah menjamin keberkahan bagi yang berjihad di jalan-Nya.
Menjelang bulan Zulhijah, Ustadz Chandra juga menyoroti perilaku konsumtif masyarakat. Ia memberikan tamsil tentang seseorang yang sanggup mencicil motor, rumah, bahkan membeli iPhone terbaru seharga jutaan rupiah. Namun merasa tidak mampu saat panggilan kurban datang.
"Kurban itu bukan soal mampu, tapi soal mau mendekatkan diri kepada Allah. Kita rela menyicil barang duniawi, tapi untuk kurban yang hanya tiga jutaan, kita sering kali absen jika tidak ada usaha untuk menabung atau menyicilnya," tegasnya.
Dialog menjadi semakin menarik saat membahas fenomena orang kaya yang belum berhaji dengan alasan "belum dipanggil". Ustadz Chandra menyebut hal tersebut sebagai bentuk kekikiran terhadap diri sendiri.
Ia membandingkan fenomena ini dengan kisah inspiratif guru honorer atau tukang sol sepatu yang bisa berangkat ke Baitullah. "Kita harus malu pada guru honorer yang gajinya mungkin hanya 300 ribu, tapi bisa berangkat haji setelah menabung belasan tahun. Sementara yang berpenghasilan besar terkadang justru belum memiliki rekening tabungan haji, padahal membuka rekeningnya saja gratis," tuturnya. (Bayu)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....