Memaknai Esensi Kurban dalam Kehidupan Modern
- 11 Mei 2026 19:20 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Ibadah kurban yang dilaksanakan setiap tahun oleh umat Muslim ditegaskan bukan sekadar rutinitas penyembelihan hewan ternak. Kurban merupakan sebuah "madrasah kehidupan" yang mengajarkan tentang ketaatan, keikhlasan, dan kepedulian sosial yang mendalam.
Hal tersebut menjadi inti bahasan dalam program "Religi Pagi Islam" yang disiarkan oleh kanal YouTube RRI Tarakan Official pada Jumat (8/5/2026).
Ustadz H. Sultan Halim, S.Ag., M.Pd., selaku narasumber, menekankan bahwa momentum Idul Adha harus dijadikan titik balik bagi setiap individu untuk memperbaiki kualitas diri.
Dalam ceramahnya, Ustadz Sultan menyoroti bahwa di balik kisah historis Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, terdapat pesan kuat tentang keberanian mendahulukan perintah Tuhan di atas kepentingan pribadi. Menurutnya, implementasi kurban di masa kini tidak hanya berhenti pada hewan ternak.
"Hakikat kurban bukan sekadar menyembelih sapi atau kambing, tetapi juga menyembelih sifat-sifat buruk dalam diri kita, seperti kesombongan, iri hati, kebencian, dan hawa nafsu," tegas Ustaz Sultan.
Kisah Inspiratif Tukang Becak
Salah satu poin menarik dalam diskusi tersebut adalah kisah seorang penarik becak yang mampu berkurban setelah menabung uang receh selama bertahun-tahun. Kisah ini menjadi pengingat bahwa nilai sebuah pengorbanan tidak diukur dari kemewahan hewan yang disembelih, melainkan dari ketulusan dan perjuangan pelakunya.
Dimensi Sosial dan Keberlanjutan
Selain aspek spiritual, kurban juga memiliki dimensi sosial sebagai bentuk nyata perhatian terhadap kaum dhuafa. Ustadz Sultan mengingatkan bahwa semangat berbagi ini tidak boleh hilang setelah hari raya usai.
"Langkah kecil yang konsisten, seperti berlaku jujur di tempat kerja atau membantu tetangga yang kesulitan, jauh lebih berarti daripada lompatan besar yang hanya dilakukan sekali setahun," pungkasnya. (Bayu)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....