Haji Mabrur: Titik Balik Mental dan Awal Istiqamah tanpa Batas

  • 02 Mei 2026 21:42 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan sebuah transformasi besar bagi mental dan spiritual seorang Muslim. Menjelang keberangkatan jemaah haji pada awal Juni mendatang, Ustazah Rahmawati, S.Ag., menekankan bahwa esensi haji mabrur adalah menjadi titik balik untuk mencapai keteguhan hati atau istikamah yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam program Religi Pagi Pro 1 RRI Tarakan edisi Sabtu (2/5/2026), Ustazah Rahmawati menjelaskan bahwa secara bahasa, haji berarti menuju sesuatu yang agung. Berbeda dengan ibadah salat yang lebih dominan pada gerakan hati dan iman, haji melibatkan seluruh aspek kemanusiaan, mulai dari fisik, mental, hingga kemampuan materi atau istitha’ah. Menurutnya, setiap rangkaian ibadah haji memiliki filosofi mendalam yang bertujuan menyelaraskan kerja tubuh, otak dan hati manusia.

Salah satu contoh yang disoroti adalah ibadah tawaf dan sa’i. Secara ilmiah, gerakan berjalan melingkar dan ritme bolak-balik antara Safa dan Marwah terbukti mampu menenangkan sistem saraf serta menstabilkan detak jantung.

"Hormon stres menurun dan tubuh menghasilkan hormon bahagia. Itulah mengapa banyak jemaah merasa lelah secara fisik, namun hatinya tetap tenang karena tubuhnya sedang 'disetel ulang' oleh Allah SWT," ujar Ustazah Rahmawati.

Lebih lanjut, Ustazah menjelaskan bahwa wukuf di Arafah ditengah cuaca panas ekstrem merupakan proses detoksifikasi jiwa. Rasa panas yang menyengat melatih keruntuhan ego manusia, sehingga memunculkan kejujuran dan ketundukan hati di hadapan Sang Pencipta.

Sementara itu, ritual melontar jumrah dimaknai sebagai terapi psikologi untuk melatih respon otak dalam menghadapi godaan hawa nafsu dan mengubah kebiasaan buruk menjadi aksi nyata setelah kembali ke tanah air.

Tantangan sesungguhnya dari ibadah haji justru muncul saat jemaah kembali ke lingkungan masyarakat. Ustazah Rahmawati mengingatkan agar gelar haji tidak sekadar menjadi status sosial atau kebanggaan semata.

Jika sepulang haji seseorang masih sulit menahan emosi, gemar berdusta, atau berat untuk beribadah, maka perlu dipertanyakan apakah hatinya benar-benar "sampai" kepada Allah saat berada di Baitullah. Haji mabrur seharusnya tercermin dari perubahan perilaku yang lebih tawadu dan bermanfaat bagi orang lain.

Sebagai penutup, ia menekankan bahwa haji adalah miniatur perjalanan menuju akhirat, yang dimulai dengan menanggalkan kesombongan melalui pakaian ihram yang serupa kain kafan. "Haji mabrur tidak ada balasannya selain surga. Namun, surga itu bisa dirasakan sejak di dunia melalui hati yang tenang, keluarga yang sakinah, dan rezeki yang berkah untuk berbagi," pungkasnya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....