Pesan untuk Orang Tua: Jadilah Sahabat agar Anak Tak Cari Pelarian ke Narkotika
- 01 Mei 2026 22:16 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Upaya membangun potensi diri di kalangan anak muda sering kali terbentur pada pilihan yang salah, termasuk jeratan narkotika dan perilaku menyimpang. Siti Hajar, S.Psi., seorang Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Pertama dari BNN Kota Tarakan, menekankan pentingnya konsep self-love atau mencintai diri sendiri sebagai fondasi utama agar remaja tidak terjebak dalam pelarian yang merusak. Menurutnya, mengenali diri secara utuh dan memahami kebutuhan pribadi adalah langkah awal untuk menyadari bahwa tubuh sangat berharga dan tidak boleh dirusak oleh pengaruh zat terlarang demi kesenangan sesaat.
Dalam dialog "Spada" Pro 2 RRI Tarakan, Siti Hajar mematahkan berbagai mitos yang kerap beredar di kalangan anak muda, seperti penggunaan sabu yang dianggap bisa meningkatkan performa atau daya tahan tubuh untuk lembur. Faktanya, narkotika justru mengambil energi tubuh secara paksa dan memicu kerusakan sistem saraf pusat yang berdampak panjang, termasuk risiko depresi saat efek obat menghilang.
Fenomena yang terjadi di Kota Tarakan saat ini tergolong memprihatinkan, dimana pengaruh negatif sudah merambah hingga usia remaja awal atau tingkat SMP. Siti Hajar mengungkapkan salah satu kasus pada tahun 2022, dimana terdapat 13 siswa SMP yang melakukan aksi mengiris tangan (self-harm) karena terpengaruh tren di media sosial TikTok.
Para siswa tersebut terjebak dalam misinformasi yang menyebutkan bahwa menyakiti diri sendiri merupakan bentuk healing untuk melupakan masalah atau rasa sakit hati akibat perundungan dan masalah keluarga.
Selain pengaruh media sosial, pola asuh orang tua memegang peranan krusial sebagai benteng utama anak. Siti Hajar menyoroti bahwa banyak orang tua yang bersikap terlalu kaku atau melarang sesuatu tanpa memberikan penjelasan yang dapat diterima oleh anak.
Hal ini sering kali justru memicu rasa penasaran yang berujung pada kebohongan dan pelarian ke lingkungan negatif. Ia menyarankan agar orang tua mulai membangun komunikasi yang hangat dan memposisikan diri sebagai sahabat agar anak merasa nyaman untuk terbuka mengenai emosi dan masalah yang mereka hadapi.
Tekanan gaya hidup dan keinginan untuk mendapatkan validasi instan juga menjadi pemicu anak muda terjerumus dalam tindak kriminal, termasuk menjadi pengedar narkotika demi memenuhi kebutuhan materi seperti ponsel mewah.
Siti Hajar mengingatkan bahwa mengejar ekspektasi orang lain secara berlebihan dapat merusak jati diri. Ia menjelaskan bahwa kebahagiaan atau hormon dopamin seharusnya didapatkan melalui cara alami yang sehat, seperti menjalankan hobi, berolahraga, seni, atau membangun hubungan berkualitas dengan keluarga, bukan melalui zat kimia yang mengambil alih fungsi kebahagiaan alami tersebut.
Siti Hajar juga mengajak generasi muda untuk memiliki manajemen stres yang baik dan berani menyuarakan pendapat (speak up) terkait masa depan mereka. Ia menekankan bahwa setiap orang harus memiliki tujuan hidup yang jelas dan menikmati setiap proses perkembangannya, meskipun harus menghadapi tantangan atau kegagalan.
"Kekuatan sejati itu muncul dari pikiran yang jernih dan tubuh yang sehat. Jangan hancurkan masa depan yang sedang kamu bangun hanya untuk kesenangan sesaat," pungkasnya sebagai pesan bagi anak muda di Tarakan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....