Menghindari Mentalitas Qarun, Ustaz Malik: Ingat, Semua Nikmat Hanyalah Titipan

  • 01 Mei 2026 21:19 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan: Dalam program dialog Religi Pagi Islam edisi Kamis (30/4/2026), Ustaz Abdul Malik, S.HI., membedah secara mendalam esensi dari Surah Al-Kautsar.

Mengusung tema "Dibalik Nikmat Ada Semangat Kuat", ia menekankan bahwa surah terpendek dalam Al-Qur'an ini mengandung pesan transformatif tentang bagaimana manusia seharusnya menyikapi limpahan nikmat Tuhan dengan semangat berkorban bagi sesama.

Menurutnya, Surah Al-Kautsar memberikan landasan bagi umat untuk menyadari bahwa setiap pencapaian bukanlah semata hasil usaha pribadi, melainkan titipan Yang Maha Kuasa.

Ustaz Malik menjelaskan bahwa Allah telah memberikan fasilitas yang sangat luas kepada manusia bahkan jauh sebelum mereka ditempatkan di bumi. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam "mentalitas Qarun," yaitu sikap sombong yang mengeklaim bahwa kekayaan atau kesuksesan hanyalah buah dari kecerdasan dan usaha pribadi. Sebaliknya, Surah Al-Kautsar dibuka dengan penegasan bahwa Allah-lah yang memberikan nikmat tersebut agar manusia lebih dekat kepada-Nya.

Lebih lanjut, Ustaz Malik menguraikan bahwa pesan utama surah ini terletak pada sinergi antara ibadah ritual dan sosial melalui ayat fasolli lirabbika wanhar. Perintah salat dalam ayat tersebut disandingkan langsung dengan perintah berkurban.

Berkurban dalam perspektif ini tidak hanya dimaknai sebagai ritual menyembelih hewan, tetapi juga pengorbanan rasa dan empati untuk memahami kondisi orang lain di sekitar. Hal ini dianggap sebagai bagian dari upaya menjaga kedamaian dan keseimbangan sosial ditengah masyarakat.

Menanggapi keluhan masyarakat mengenai hambatan finansial dalam berkurban, Ustaz Malik memberikan analogi menarik tentang memindahkan satu truk batu gunung. Jika dilakukan sekaligus, beban tersebut akan terasa mustahil, namun jika dipindahkan satu per satu, batu-batu itu akan menjadi pondasi rumah yang kokoh.

Ia menyarankan umat Islam untuk melakukan perencanaan jangka pendek dengan menyisihkan dana secara rutin, misalnya Rp100.000 hingga Rp300.000/bulan. Dengan cara mencicil atau menabung ini, seseorang dengan penghasilan terbatas pun dipastikan mampu berkurban secara rutin setiap tahun.

Di era media sosial saat ini, Ustaz Malik juga menyoroti batasan tipis antara syiar agama dan perilaku riya (pamer). Merujuk pada Surah Al-Maun, ia memperingatkan bahwa ibadah yang dilakukan hanya untuk mendapatkan sanjungan makhluk adalah sebuah kerugian.

Meskipun kurban merupakan ibadah syiar yang dilakukan di tempat terbuka, esensinya tetap terletak pada keikhlasan hati untuk melawan keinginan ego pribadi. Kurban dipandang sebagai bentuk pendidikan bagi jiwa untuk meruntuhkan kesombongan dan memperkuat kepedulian sosial.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....