Hati yang Mati, Ibarat Bangkai Berjalan

  • 25 Apr 2026 14:53 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Ustaz H. Sofyan Riduan, S.Ag., dalam program Religi Pagi Islam di RRI Tarakan edisi Kamis (23/4/2026), menyampaikan pentingnya menjaga kondisi hati bagi setiap Muslim.

Dalam tausiahnya, ia menekankan bahwa memohon perlindungan agar dijauhkan dari hati yang mati merupakan hal krusial. Lantaran hati adalah penentu kualitas hidup seseorang.

Sabda Rasulullah SAW dari hadits riwayat Bukhari, dijelaskan bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang menjadi kunci kebaikan seluruh anggota tubuh. "Jika daging itu baik maka baik pula seluruh tubuh, jika daging itu rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Daging itu adalah hati," ungkapnya saat menjelaskan urgensi menjaga kesehatan spiritual.

Menurut Ustaz Sofyan, salah satu tanda nyata hati yang mulai mati adalah hilangnya rasa sedih saat melewatkan kesempatan beribadah dan tidak adanya penyesalan setelah melakukan kesalahan atau dosa. Ia mencontohkan kondisi di mana seseorang merasa biasa saja saat meninggalkan salat atau kewajiban syariat lainnya tanpa merasa terbebani secara mental maupun spiritual.

Ia menyoroti fenomena sosial di era modern, seperti maraknya fitnah dan ghibah di media sosial yang dianggap sebagai cerminan hati membeku. Bahkan mengibaratkan perilaku munafik yang gemar memprovokasi dan mencari kesalahan orang lain sebagai bentuk hilangnya rasa malu (al-haya') kepada Allah SWT.

Tanpa kepekaan hati, manusia disebutnya hanya akan menjadi "bangkai yang berjalan", hidup tanpa rasa empati dan respek terhadap sesama. Sebagai solusi untuk menghidupkan kembali hati, umat Islam dianjurkan untuk senantiasa mengasahnya melalui zikrullah (mengingat Allah) dan memperbanyak istigfar.

Ustaz Sofyan mengingatkan bahwa Rasulullah SAW memberikan teladan untuk beristigfar minimal 70 kali sehari guna membersihkan "debu" dosa yang mengotori cermin hati agar tetap bening dan tenang.

Menutup tausiahnya, ia berpesan agar masyarakat tetap bijak dalam menghadapi berbagai ujian hidup, termasuk tantangan ekonomi. Iman dan hati yang hidup adalah benteng utama agar seseorang tidak terjebak dalam keputusasaan yang fatal. Dengan menjaga hati tetap terjaga melalui zikir dan taubat, diharapkan setiap individu dapat menghadapi pertanggungjawaban di akhirat dengan bekal yang cukup. (Agus)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....