Unggah Ibadah di Medsos Bisa Jadi Syiar Agama
- 23 Feb 2026 16:11 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Fenomena menunjukkan aktivitas ibadah di media sosial selama bulan Ramadan kembali menjadi sorotan.
Ustaz Imamul Hakim mengupas tuntas fenomena ini dari sudut pandang moderasi beragama dalam program Tauladan RRI Tarakan, belum lama ini. Topik ini menjadi relevan mengingat tingginya aktivitas digital generasi muda.
"Banyak yang mempertanyakan apakah mengunggah foto saat tarawih atau tadarus termasuk perbuatan riya? Innamal a'malu binniyat,
Bahwa segala sesuatu bergantung pada niatnya. Tidak semua orang yang mengunggah aktivitas ibadahnya ingin mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia," jelasnya.
Ia mencontohkan kisah seorang donatur yang meminta namanya ditulis jelas di papan pengumuman masjid. Tujuannya bukan untuk sombong, melainkan memancing orang kaya lainnya agar ikut bersedekah karena rasa gengsi yang kompetitif. Hal ini disebut sebagai strategi dakwah untuk menggerakkan kebaikan.
Oleh karena itu, mengunggah konten positif di media sosial bisa dikategorikan sebagai dakwah bil hal atau metode penyebaran Islam melalui aksi, tindakan nyata dan keteladanan. Jika konten tersebut menginspirasi orang lain untuk ikut beribadah, maka pengunggahnya justru mendapatkan pahala jariyah karena menjadi perantara kebaikan bagi orang banyak.
Namun, Ustaz Imam juga mengingatkan sisi negatifnya. Jika niat di dalam hati memang murni untuk pamer dan merasa lebih hebat dari orang lain, maka esensi ibadah tersebut bisa hilang. Di sinilah pentingnya "wasathiyah" atau moderasi, yaitu tetap menjaga keseimbangan antara syiar dan menjaga kesucian niat.
Selain membahas media sosial, diskusi ini juga menyinggung bagaimana mengajarkan moderasi kepada anak sejak dini. Caranya bukan dengan mendikte satu jawaban benar, melainkan menunjukkan berbagai sudut pandang. Seperti hasil angka sepuluh yang bisa didapat dari 5+5 atau 7+3, begitu pula jalan menuju kebaikan yang sangat beragam.
Acara yang dipandu oleh Oca ini ditutup dengan pesan kuat mengenai etika sosial. Ustaz Imam berpesan agar setiap individu tidak hanya merasa pandai, tapi juga harus pandai merasa. Dengan demikian, Ramadan tahun ini diharapkan tidak hanya penuh dengan aktivitas digital, tapi juga penuh dengan empati terhadap sesama. (Kartini/sti)