Tren Kesehatan Milenial Melek Bekam, Tradisi Lama-Solusi baru

  • 14 Nov 2025 15:36 WIB
  •  Tarakan

KBRN, Tarakan: Di tengah serbuan gaya hidup serba instan, kaum muda Indonesia, khususnya generasi milenial dan Gen Z, mulai kembali melirik pengobatan tradisional. Salah satu yang kini naik daun adalah Terapi Bekam, sebuah tradisi pengobatan warisan Rasulullah SAW yang telah bertransformasi menjadi lebih modern, higienis, dan didukung bukti ilmiah.

Fenomena ini diungkapkan oleh Tigor Abdurrahman Thomi, dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan, dalam program Mozaik Indonesia RRI Tarakan (10/11/2025).

“Bekam itu teknik pembuangan darah menggunakan kop. Tradisinya memang lama, tapi kini alat-alatnya sudah modern dan steril. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir soal higienitas,” ujar Tigor.

Tigor menjelaskan, modernisasi adalah kunci diterimanya bekam di era digital. Jika dulu alat yang digunakan adalah tanduk atau bahan sederhana, kini seluruh prosedur dilakukan dengan standar sterilisasi ketat layaknya rumah sakit.

“Kalau dulu pakai tanduk, sekarang sudah ada alat sterilisasi seperti autoklaf. Semua bisa dibersihkan sesuai standar kesehatan,” jelasnya.

Bahkan, untuk menjamin keamanan dan profesionalisme, terapis di Kalimantan Utara (Kaltara) telah banyak yang mengantongi sertifikat kompetensi dan izin praktik resmi dari Dinas Kesehatan, serta berafiliasi dengan Perkumpulan Bekam Indonesia (PBI).

Minat generasi muda terhadap bekam tidak hanya didorong oleh alasan religius (sunnah Nabi), tetapi juga karena manfaat kesehatannya yang terbukti secara ilmiah.

“Ada penelitian yang membuktikan bekam mampu meningkatkan sel T dan menurunkan kadar kolesterol, jadi bukan sekadar tradisi tapi juga ilmiah,” tegas Tigor.

Penelitian medis menunjukkan bekam efektif membantu, menurunkan kadar kolesterol, meningkatkan imunitas tubuh, memperlancar sirkulasi darah.

Host : Jubaedah, Narasumber :Tigor Abdurrahman Thomi dalam Program MOZAIK INDONESIA, (10/11/2025). (Foto : RRI Tarakan/Agung)

Penerimaan bekam di kalangan Gen Z didukung kuat oleh media sosial. Menurut Tigor, banyak anak muda yang mencari informasi dan mencoba terapi ini karena mencari gaya hidup sehat yang alami.

“Sekarang anak muda sudah mulai terbuka. Mereka ingin sehat tapi alami. Bekam bisa jadi tren baru kalau dikemas dengan edukasi digital,” ungkapnya.

Edukasi yang tepat melalui konten digital dan podcast dinilai mampu menghapus stigma bahwa bekam adalah metode kuno, menjadikannya relevan di kalangan masyarakat modern.

Tigor menekankan bahwa bekam bukan dimaksudkan untuk mengganti pengobatan medis, melainkan sebagai pelengkap atau terapi komplementer.

“Bekam bisa untuk pencegahan dan relaksasi, sementara medis untuk diagnosis dan terapi lanjut. Kalau disinergikan, hasilnya jauh lebih baik,” pungkasnya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk selalu memastikan prosedur bekam dilakukan oleh terapis profesional dan menggunakan alat steril guna mencegah risiko penularan penyakit.

“Selain menyehatkan tubuh, berbekam juga mengikuti sunnah Nabi. Jadi bukan han ya sembuh, tapi juga berpahala,” tutupnya. (Agung/Amr)

Rekomendasi Berita