Ustadz Syamsi: Bangun Komunikasi Umaro dan Umat
- 10 Sep 2025 12:22 WIB
- Tarakan
KBRN, Tarakan: Ada tema yang menarik pada program Religi Pagi Islami Rabu (3/9/2025) yaitu tentang peristiwa yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia dalam kemasan topik Hikmah di balik peristiwa, bersama narasumber Ustadz Syamsi Sarman S.Pd. di pandu penyiar pagi Agus Maulana.
Dalam tausiyahnya Syamsi menerangkan bahwa semua peristiwa boleh saja terjadi semua peristiwa boleh saja ada bahkan sampai mengorbankan nyawa tidak ada yang mustahil, kita ingin peristiwa itu tidak berlalu sia-sia, harus ada pelajaran, harus ada hikmah, harus ada sesuatu yang memotivasi kita lebih baik kedepan, sebagaimana
Surat Alquran Ali Imran ayat 191: di mana orang-orang yang berakal (Ulul Albab) merenungkan ciptaan langit dan bumi, lalu berdoa, "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka"
Dalam konteks sekarang peristiwa-peristiwa yang terjadi saat ini pasti ada hikmahnya pasti ada pelajarannya, dalam ayat Ali Imron tersebut ulil albab orang yang mampu menggunakan hati dan pikirannya melihat semua peristiwa yang terjadi di muka bumi ini.
Dari tafsir mengatakan orang yang tidak mampu mengambil hikmah pada suatu peristiwa atau bahkan menyia-yiakannya maka ancamannya adalah api neraka oleh sebab itu ambil hikmah atau pelajaran dari setiap peristiwa. Banyak hikmah atau pelajaran pada peristiwa demo yang dilakukan oleh masyarakat pertama yang menjadi tuntutan / harapan masyarakat yaitu perbaikan tata kelola negara lebih khusus lagi kepemimpinan, ada kekecewaan masyarakat kepada pemimpin dalam ucapan dan perilakunya. Namun Syamsi mengingatkan bahwa jangan lupa pemimpin-pemimpin itu siapa yang pilih, mereka tidak diangkat begitu saja tapi mereka dipilih dan yang memilih mereka adalah kita. Rasulullah mengatakan bagaimana keadaan pemimpinmu maka begitulah keadaan masyarakatnya, artinya pemimpin adalah gambaran dari masyarakatnya, dalam masyarakat demokrasi pemimpin adalah pemimpin yang lahir dari pilihan kita.
Dalam surah Al Anam ayat 129: dandemikianlah kata Allah aku jadikan orang zalim menjadi pemimpin orang zalim lainnya dan ayat ini di tutup dengan ayat bimakanu yakzibun yang artinya akibat kesalahan kamu sendiri.
Bahasa lainnya kita salah pilih, pengalaman ini menjadi pelajaran bagi kita, kita harus memilih yang baik bukan memilih yang bayar.
Ustad Syamsi menceritakan pengalamannya saat diundang oleh anggota dewan perwakilan rakyat dalam sebuah dialog menggali Fenomena money politik, politik sembako, politik baju kaos, politik semenisasi, logika sederhana apakah ada orang yang beli kalau tidak ada yang jual?
Samsi yakin semua orang termasuk dirinya bila ditawari jadi caleg dari partai apa saja dengan gratis, pasti mau.
Namun kenyataannya mengapa harus pakai uang, ternyata kita tidak akan dapat suara kalau kita tidak memberikan uang. Saat kita masuk di suatu komunitas, masuk di suatu RT atau terjun ke tengah masyarakat mereka akan mengatakan pada caleg yang akan ikut dengan mengatakan wani piro?.
Kenyataan di lapangan jual beli suara sudah terjadi di masyarakat, berawal dari kita yang menjual suara kita, kita tidak ingin memberikan suara kita dengan gratis karena ada asumsi kita bahwa ketika calon tersebut jadi maka akan lupa dengan para pemilih, nanti kalau calon tersebut terpilih saat kami ajukan proposal ini dan itu mereka tidak akan mengindahkan jadi sekarang aja mumpung kamu butuh dan saya ada.
Apa yang kita jual dan di beli oleh mereka dan hasilnya kita boleh kecewa dan orang pertama yang seharusnya membuat kecewa adalah diri kita sendiri.
Allah sudah mengatakan sudah Allah tunjukan ayat-ayat Allah di setiap penjuru dunia dan di dalam dirimu sendiri. Sampai kamu mengatakan akulah (kata Allah) yang benar.
Kita menginginkan apapun evaluasinya maka dia akan berujung pada Allahlah yang benar. Sederhananya pekikirannya betul juga ya kata Allah, salah kita selama ini, Allah sudah bilang carilah pemimpin yang berakhlakul kharimah.
Waktu masa kampanye pemilu lalu ia dan kerabat dai lainnya mengatakan carilah pemimpin yang beriman, berakhlakul kharimah. Bila saat ini kita kecewa ya itulah hasil pilihan kita. Hikmah yang bisa kita petik adalah hati-hati di dalam memilih pemimpin, bila menjadi pemimpin tidak arogan, biasakan mendengar aspirasi masyarakat bisa dari ulama, dari mahasiswa dan lain-lain.
Samsi menerangkan sebaiknya tidak menjadikan ulama ibaratnya seperti pemadam kebakaran sudah kejadian, sudah kepepet, api sudah dimana-mana baru ulama-ulama diundang dikumpulkan untuk dimintakan nasehatnya. Seharusnya pemimpin membangun komunikasi dengan ulama jangan mengundangl ulama ketika keadaan sudah chaos karena kondisi sudah sulit untuk dikendalikan.
Oleh sebab itu Syamsi menggaris bawahi bagi pemimpin untuk membangun komunikasi dengan ulama, mahasiswa, tokoh masyarakat juga elemen masyarakat lainnya. (nw. Gode Permana)