Ikhlas dalam Beribadah, Seperti Apa?

  • 19 Apr 2025 13:31 WIB
  •  Tarakan

KBRN, Tarakan : Pada program Religi Pagi Pro 1 Tarakan edisi jumat (18/04), host Ervi Febrianti berkesempatan berbincang hangat bersama Ustadz H. Sopian Riduan, S.Ag., M.Pd. Tema yang diangkat kali ini adalah Beribadah dengan Ikhlas, sebuah topik yang tak lekang oleh waktu dan selalu relevan bagi siapa saja yang ingin memperbaiki kualitas hubungannya dengan Allah SWT.

Diawal perbincangan, Ustadz Sopian membuka dengan membacakan ayat suci Al-Qur'an surah Al-Bayyinah ayat 5:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

"Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar)" - Q.S. Al Bayyinah: 5.

Ustadz Sopian kemudian menjelaskan bahwa ayat ini memberikan satu pemahaman bagi kita bahwa Allah tidak memerintahkan kepada kita kecuali hanya beribadah kepada-Nya.

"Ini artinya bahwa manusia ketika diciptakan di muka bumi ini, disamping sebagai khalifah, juga mengabdi kepada Allah yaitu menyembah kepada-Nya. Tentu dalam konteks beribadah kepada Allah SWT, bukan sekedar untuk menggugurkan kewajiban, tetapi adalah bagaimana caranya kita ketika beribadah kepada Allah, kita mengikhlaskan dengan rela tanpa ada unsur paksaan," ungkap beliau.

Menurut Ustadz Sopian, ikhlas adalah ketika seseorang tidak mengharapkan apa pun dari ibadahnya kecuali ridha Allah SWT. Tidak berharap dipuji, dihormati, atau diberi imbalan dunia.

"Hati yang ikhlas ya, kerelaan hatinya karena semata-mata karena Allah itu pasti berbeda," terang Ustadz Sopian.

Ikhlas juga berarti tidak mengungkit-ungkit kebaikan yang telah kita lakukan. Ketika hati masih ingin menyebut-nyebut amal, menceritakannya berulang-ulang, atau berharap orang lain tahu dan berterima kasih, itu tanda bahwa keikhlasan belum sepenuhnya tumbuh.

"Ikhlas itu tidak semata-mata diucapkan. Ukuran sebuah keikhlasan itu adalah ketika dia sudah memberi, telah mengabdi, dia gak perlu lagi mengungkit-ungkit," jelas beliau.

Ustadz Sopian lalu mengingatkan, bahwa keikhlasan bukan hanya soal niat diawal, tapi tentang menjaga hati sepanjang ibadah dilakukan. Beliau mengajak para pendengar untuk senantiasa membiasakan diri beribadah hanya karena Allah, bukan karena ingin dilihat orang lain atau mengharap balasan dunia.

"Cobalah belajar untuk mengikhlaskan diri kita untuk beribadah kepada Allah SWT. Perbuatan-perbuatan lain juga kita ikhlaskan. Tentu ikhlas ini diimplementasikan dari awal yaitu mengabdi kepada Allah SWT. Nanti pada akhirnya, efeknya semua aktivitas kita, kita lakukan dengan keikhlasan tanpa harus mengucapkan saya sudah ikhlas," tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....