Jurnalis Olahraga Jaga Kode Etik Demi Fakta
- 19 Jun 2026 10:59 WIB
- Tarakan
Poin Utama
- Pesta Bola Dunia
rri.co.id, Tarakan - Tantangan jurnalisme olahraga pada era digital saat ini dinilai semakin berat seiring maraknya pertumbuhan media sosial di masyarakat. Kecepatan penyebaran informasi di dunia maya sering kali melupakan keakuratan data yang menjadi pilar utama sebuah produk jurnalistik. Fenomena ini menuntut para pencari berita untuk lebih selektif dan berpegang teguh pada prinsip utama penulisan.
Hal tersebut menjadi bahasan utama dalam dialog interaktif bertajuk Di Balik Bola yang disiarkan RRI Tarakan. Dua tokoh jurnalis senior yang hadir sebagai narasumber mengupas tuntas dinamika pekerjaan mereka di lapangan. Keduanya sepakat bahwa kehadiran fisik wartawan di arena pertandingan tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun.
Ketua Seksi Wartawan Olahraga Kaltara Eliazar Simon menegaskan bahwa profesi mereka memiliki batasan etis yang sangat jelas. Ketika media sosial bisa mengunggah apa saja tanpa sensor, wartawan wajib melakukan konfirmasi berulang kali. Perbedaan mendasar inilah yang membuat produk jurnalisme tetap memiliki nilai kepercayaan tinggi di mata publik.
"Bedanya kita karena kita wartawan kita mengkonfirmasi ke pihak-pihak terkait dan kita mendapatkan statement itu dan kita memklearkan," ujar Eliazar Simon saat memberikan pandangannya mengenai maraknya media sosial.
Di sisi lain, tuntutan dari redaksi untuk bergerak cepat juga kerap memberikan tekanan tersendiri bagi para jurnalis di lapangan. Menghadapi situasi krusial seperti kericuhan suporter sepak bola memerlukan ketenangan ekstra agar informasi tidak simpang siur. Wartawan dituntut mampu memisahkan antara fakta lapangan dengan opini emosional yang berkembang di media sosial.
Ketua Seksi Wartawan Olahraga Kota Tarakan Hendy Rustandi menceritakan pengalamannya saat menghadapi berita sensitif yang tidak bisa langsung diunggah. Beliau menjelaskan bahwa konfirmasi dari pihak berwenang seperti panitia pertandingan atau aparat keamanan adalah hal wajib. Menurutnya, sebuah berita menarik akan kehilangan nilainya jika disajikan tanpa data yang benar-benar valid.
"Banyak kan fanatisme pendukung bola tuh tinggi, cuma karena belum ada konfirmasi kejelasan ke pihak panitia atau aparat di lapangan belum ada nah itu sempat tertunda," kata Hendy Rustandi mengingat salah satu momen peliputan krusialnya. (ADR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....