Prevalensi Stunting di Tarakan Turun ke 4,18 Persen
- 05 Okt 2026 18:02 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Angka stunting di Kota Tarakan menunjukkan penurunan signifikan. Dalam lima tahun terakhir, prevalensi balita stunting berhasil ditekan hingga 4,18 persen dari 25 persen pada 2019.
Angka tersebut pernah tercatat sebagai yang tertinggi di Kalimantan Utara (Kaltara). Namun Juni 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mencatat 532 balita berkategori stunting dari total 12.726 balita.
Kepala Dinkes Kota Tarakan, Devi Ika Indriarti, menjelaskan bahwa perbedaan angka yang beredar bersumber dari metode pengambilan data berbeda. "Data yang disebutkan Pak Wali berasal dari Dinas Kesehatan, tapi yang berbeda sumber pengambilan data stunting. Angka 25 persen itu dari SSGI atau SKI, Survei Kesehatan Indonesia, yang menggunakan blok sensus. Data terakhirnya tahun 2024, yaitu 11 persen,"
ujarnya.
Menurutnya, data survei tidak dapat ditindaklanjuti secara langsung di lapangan karena sifatnya yang berbasis sampel. Sebaliknya, data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) yang dikelola pemerintah pusat memungkinkan intervensi karena tercatat by name dan by address.
Data e-PPGBM diinput petugas gizi Puskesmas dan ditarik Dinkes setiap tanggal 10 bulan berikutnya. Karena sumber awalnya berasal dari kader, Dinkes melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum data dipakai.
"Data yang disebutkan Pak Wali adalah data e-PPGBM, yakni 4,18 persen. Input data oleh petugas gizi di puskesmas sudah di atas 80 persen, sekitar 97 persen. Jadi data itu bisa dipergunakan, dan secara nasional masih bisa dipertanggungjawabkan," jelasnya.
Data terbaru menunjukkan tren penurunan berlanjut. Rekapitulasi capaian stunting e-PPGBM periode Januari-Agustus 2026 di enam Puskesmas, yakni Karang Rejo, Sebengkok, Pantai Amal, Mamburungan, Gunung Lingkas, dan Juata, mencatat 522 balita stunting. Rinciannya, 224 balita berkategori sangat pendek dan 298 balita berkategori pendek.
Devi menegaskan, kondisi tersebut tidak mengganggu perkembangan otak anak sehingga tidak memengaruhi kecerdasan (IQ). Meski begitu, pengawasan terhadap balita yang masuk kategori stunting tetap dilakukan. (Dinda)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....