Potensi Usaha Lokal KMP Selumit Belum Optimal
- 11 Sep 2026 19:34 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan – Koperasi Merah Putih (KMP) Kelurahan Selumit, Tarakan, menyimpan potensi besar dalam mengembangkan bisnis berbasis kearifan lokal. Namun berbagai faktor membuat rencana ekspansi tersebut jalan di tempat.
Ketua KMP Selumit, Saifullah, mengungkapkan bahwa omzet koperasi saat ini masih stagnan di kisaran Rp100 juta per bulan. Padahal, angka tersebut bisa melambung tinggi jika potensi ekonomi lokal Selumit digarap secara optimal.
"Omzet sekarang masih sekitar Rp100 juta per bulan. Padahal bisa ditingkatkan jauh dari itu. Masalahnya, kami masih menjalankan usaha konvensional sesuai kebijakan awal pemerintah dan belum menyentuh potensi lokal," ujar Saifullah, Kamis (10/9/2026).
Ia menjelaskan Selumit memiliki beragam komoditas lokal yang menjanjikan. Seperti pengolahan limbah nelayan menjadi pupuk organik, pakan ikan, hingga pakan ayam. Selain itu, peluang bisnis peternakan ayam petelur juga sangat terbuka lebar karena selama ini kebutuhan telur di Tarakan masih didominasi pasokan luar daerah.
Sayangnya, lini usaha pengolahan pupuk organik hasil inovasi KMP Selumit terpaksa dihentikan total akibat belum mengantongi sertifikasi hasil uji laboratorium.
"Isu uji lab pupuk organik ini sudah kami titipkan langsung ke Wakil Menteri saat kunjungan kemarin. Kami tidak berani memasarkan produk yang belum teruji secara legal dan teknis," tegas Saifullah.
Dampak dari terbatasnya ruang gerak ini mulai dirasakan internal koperasi. Jumlah anggota KMP Selumit yang sempat melonjak dari 40 orang menjadi 120 orang, kini kembali merosot ke angka awal, yakni 40 orang.
Saifullah menyebut pola pikir masyarakat yang menganggap koperasi sekadar tempat meminjam uang —bukan menabung— turut memperkeruh keadaan. Janji awal terkait suntikan modal dan fasilitas bagi UMKM yang belum terealisasi mengubah optimisme warga menjadi pesimisme.
KMP Selumit kini berada di posisi serba salah. Sebagai koperasi yang sejak awal dicanangkan sebagai percontohan, ada beban moral besar jika KMP Selumit sampai gulung tikar.
"Dikatakan mati tak mau karena ada beban moral. Kalau KMP Selumit tutup, dampaknya bisa merembet ke koperasi lain di Tarakan," tambahnya.
Melihat kondisi yang kian memprihatinkan, Saifullah mendesak pemerintah pusat untuk mengembalikan wewenang tata kelola KMP kepada instansi yang relevan, yakni Kementerian Koperasi.
"Kembalikan program ini kepada pihak yang benar-benar memahami koperasi, yaitu Kementerian Koperasi. Penempatan manajer saat ini bahkan dilakukan oleh Kementerian Pertahanan. Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tinggal menunggu kehancurannya," imbau Saifullah.
Ia optimistis, stimulus modal yang tidak begitu besar sebenarnya sudah cukup untuk menghidupkan iklim koperasi di Kota Tarakan.
"Untuk menggerakkan koperasi di 20 kelurahan yang ada di Tarakan, sebenarnya tidak butuh anggaran fantastis. Cukup suntikan modal Rp50 juta per koperasi, usaha sudah bisa berjalan," tutup Saifullah. (Rajab)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....