Kabut Asap Makin Tebal, Banyak Nelayan Tidak Melaut

  • 07 Sep 2026 09:16 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah di Kalimantan semakin tebal dan berdampak langsung pada aktivitas nelayan. Jarak pandang di laut yang terbatas membuat sebagian besar nelayan memilih tidak melaut.

Kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan mengakibatkan langit di Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara), turut terdampak kiriman asap. Bahkan telah menganggu aktifitas masyarakat, termasuk nelayan.

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kaltara, Rustan, mengatakan kabut asap saat ini semakin tebal mengakibatkan jarak pandang semkin terbatas.

Ia bahkan memperkirakan jarak pandang di laut pada Senin pagi (7/9/2026), hanya sekitar 50 hingga 100 meter dari tempat ia melaut di sekitaran perairan sebelah selatan dan timur laut Tarakan.

Padahal lokasinya masih dekat dengan daratan, namun asap tetap menyelimuti dan membuat navigasi sulit. Kondisi itu sangat berbahaya karena rambu-rambu navigasi laut tidak terlihat.

"Ini lebih tebal sekarang. Jarak pandang ini terbatas, memang tidak ada rambu-rambu navigasi kelihatan. Ini tidak sampai 100 meter kalau di laut. Bayangkan ini rambu-rambu tidak kelihatan, padahal dekat kita," ujar Rustan saat dikonfirmasi di perairan Tarakan, Senin (31/8/2026).

Akibat kabut asap yang sudah menyelimuti langit Tarakan sebulan terakhir, Rustan memperkirakan saat ini sekitar 70 persen nelayan tidak melaut. Hanya 30 persen yang masih berani melaut dengan risiko besar.

Kondisi ini juga berdampak pada pendapatan nelayan yang menurun drastis karena minimnya cahaya matahari dan bulan yang tertutup kabut, sehingga ikan juga berkurang.

"Hampir satu bulan kita ini menderita. Hasil tangkap nelayan menurun, drastis menurun. Kasihan nelayan sekarang," kata Rustan.

"Yang jelas saat ini nelayan itu 70 persen tidak melaut. Itu paling 30 persen saja. Pertama menghindari kesasar, kedua soal BBM. Kalau melaut tidak pakai alat yang canggih GPS, kalau kami ini pakai aplikasi HP saja. Itu biasa error, apalagi kalau low baterai. Tidak berani kita," tutur Rustan. (Rajab)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....