Pengerukan Batubara di Depan Gedung FKIP UBT Tak Ganggu Perkuliahan

  • 02 Sep 2026 16:26 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan – Aktivitas perkuliahan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Borneo Tarakan (UBT) tetap berjalan normal meski di Jalan Pantai Amal Lama tepatnya di depan Gedung FKIP UBT, sedang dilakukan pengerukan material batubara.

Dekan FKIP UBT, Dr. Arifin, S.Pd, M.Pd, mengatakan hingga saat ini perkuliahan semester ganjil sudah dimulai dan belum ada rencana peliburan.

Pengerukan sendiri dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan untuk mengangkat batubara aktif di bawah jalan Pantai Amal Lama yang sering menyebabkan kebakaran hutan dan lahan apabila minim curah hujan.

"Hari Senin ini kita memulai untuk perkuliahan semester ganjil. Sambil kita lihat perkembangannya bagaimana," ujar Arifin kepada awak media, belum lama ini.

Terkait akses jalan yang sempat terganggu, ia menyebut dampaknya tidak terlalu signifikan karena sebagian besar mahasiswa berasal dari luar Jalan Amal Lama.

Untuk mahasiswa yang ngekos di wilayah tersebut, pihak kampus telah mengimbau agar menggunakan jalur alternatif.

"Ada beberapa saja mahasiswa yang ngekos di daerah Amal Lama mungkin agak terganggu, tapi kan sudah ada alternatif jalannya. Tentu kita akan sampaikan kepada mahasiswa, khususnya teman-teman yang ngekos di daerah amal untuk bisa cari akses lain untuk menembus kampus," kata Arifin.

Ia juga menyoroti potensi dampak asap dari material batubara terhadap kesehatan mahasiswa. Ia meyebut Rektor UBT telah mengeluarkan surat edaran terkait mitigasi bencana asap dan karhutla.

"Asap kan mengganggu kesehatan bagi mahasiswa. Kita sudah ada surat edaran dari Pak Rektor terkait asap. Kita di pedoman pendidikan kami, jika ada mitigasi bencana seperti ini, tentu kita akan melakukan proses pembelajaran secara online. Kita sudah mengantisipasi itu," jelas Arifin.

*Tumpukan Batu Bara di Sekitar Kampus*

Lebih lanjut, Dr. Arifin mengungkapkan di sekitar lingkungan kampus UBT juga terdapat potensi tumpukan batu bara. Salah satunya berada di area belakang kampus yang merupakan kawasan hutan, serta di samping pintu masuk menuju Fakultas Ilmu Kesehatan dan FKIP.

"Kalau kita masuk ya, pintu masuk itu, yang pintu masuk Fikes, kemudian FKIP itu, samping kanannya sudah setinggi 3 meter batu bara," ungkapnya.

Ia menambahkan, saat ini tumpukan tersebut berada di lahan milik Pemerintah Kota Tarakan. Pihak kampus terus memantau perkembangan di lapangan dan berkoordinasi dengan pemerintah kota agar penanganan dapat dilakukan secepatnya.

"Mudah-mudahan pemerintah di kota tadi sudah cepat dengan pembagian tim tadi. Mudah-mudahan lebih cepat karena proses penanganan batu bara ini tidak mudah," pungkas Arifin. (Rajab)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....