Polisi Tegaskan Anak Tak Boleh Jadi Korban Aksi Ricuh

  • 29 Agt 2026 16:56 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tanjung Selor – Polisi meminta orang tua tidak lengah mengawasi anak-anak mereka, terutama ketika terdapat kegiatan penyampaian aspirasi yang berpotensi berujung kericuhan.

Anak-anak ditegaskan tidak boleh terseret ke dalam situasi yang bukan menjadi ruang mereka dan berisiko mengancam keselamatan.

Imbauan itu disampaikan Kabid Humas Polda Kalimantan Utara Kombes Pol. Slamet Wahyudi, S.I.K., M.H., Jumat (28/8/2026).

Ia menekankan, pengawasan terhadap anak tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada aparat. Keluarga menjadi benteng pertama untuk memastikan anak tetap berada di lingkungan yang aman.

“Kami mengimbau para orang tua untuk memastikan anak-anak tidak berada di lokasi aksi yang berpotensi terjadi kericuhan. Keselamatan mereka adalah tanggung jawab kita bersama. Untuk itu, para orang tua diharapkan dapat membimbing dan mengedukasi anak-anaknya agar memahami risiko serta mengutamakan kepentingan masa depan dan keselamatan mereka,” tegas Slamet.

Menurutnya, penyampaian pendapat merupakan hak masyarakat yang dilindungi. Namun, hak tersebut tidak boleh membuat anak-anak terseret ke dalam situasi yang dapat membahayakan diri mereka.

Polisi menilai anak-anak belum memiliki pemahaman dan kesiapan yang cukup untuk menghadapi situasi massa yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi tidak terkendali.

Karena itu, kehadiran mereka di lokasi aksi yang berpotensi ricuh harus dicegah sejak awal.

“Anak-anak kita tentu memiliki masa depan yang panjang. Jangan sampai mereka berada di tempat atau situasi yang berpotensi membahayakan diri sendiri. Karena itu, peran orang tua untuk memberikan edukasi, arahan dan pengawasan sangat penting,” jelasnya.

Slamet juga meminta orang tua tidak sekadar melarang, tetapi membangun komunikasi dengan anak. Orang tua perlu mengetahui aktivitas, lingkungan pergaulan, serta keberadaan anak ketika muncul informasi mengenai aksi atau kegiatan penyampaian aspirasi.

“Kami mengajak para orang tua untuk terus berkomunikasi dengan anak-anaknya, memberikan pemahaman bahwa menyampaikan pendapat dapat dilakukan dengan cara yang baik dan sesuai ketentuan. Yang paling utama adalah jangan sampai mereka menjadi korban atau berada dalam situasi yang dapat membahayakan keselamatan,” tuturnya.

Ia menegaskan, mencegah anak terjebak dalam situasi berbahaya membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kepolisian bertugas menjaga keamanan, tetapi keluarga dan masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah anak berada di lokasi yang berisiko.

“Keselamatan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Mari kita jaga anak-anak kita, kita bimbing dan kita edukasi untuk kepentingan masa depan mereka. Jangan sampai keinginan untuk ikut-ikutan justru membawa mereka pada situasi yang merugikan,” pungkasnya. (rln)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....