Kualitas Udara Masih Sedang, DLH Tarakan Imbau Warga Pakai Masker
- 22 Agt 2026 05:23 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, TARAKAN - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan mencatat kualitas udara berada pada kategori sedang, sedangkan tren partikulat PM 2,5 terus naik akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Tarakan, Khaizir Zein mengatakan alat pemantau kualitas udara menunjukkan indeks 72 dengan parameter kritis PM 2,5 atau partikulat berukuran 2,5 mikrometer.
Meski indeks naik, Khaizir menegaskan kualitas udara Tarakan masih kategori biru, belum masuk kuning atau waspada.
Meski demikian, Khaizir mengimbau warga tetap waspada dan memakai masker saat beraktivitas di luar rumah.
“Sekarang kualitas udara di Tarakan berada di posisi sedang dengan parameter kritisnya PM 2,5. Jadi itu dalam kondisi sedang dengan nilai 72 indeksnya. Jadi untuk saat ini memang kecenderungan, kenaikan itu ada dari kemarin trennya. Dari 66 sampai dengan 73. Kemudian sampai saat ini 72. Tertinggi tadi malam itu 73," ujar Khaizir Zein dikonfirmasi Jumat (21/8/2026).
“Belum sampai ke tahap waspada sih. Cuman kita untuk masyarakat diimbau untuk bermasker, menggunakan masker atau mengurangi kegiatan di luar. Tapi kalau kita melaksanakan kegiatan-kegiatan rutinitas di luar, masih dalam kondisi aman lah. Aman dan sehat untuk saat ini,” lanjut Kaizir.
Menurutnya, kabut asap di Tarakan berasal dari dua sumber. Pertama, kiriman dari daerah tetangga karena Tarakan berada dalam jangkauan angin selatan ke utara.
Kedua, dari kebakaran lahan di Tarakan yang sudah berlangsung sekitar tiga minggu.
Adapun Hujan yang turun pada Jumat pagi dinilai belum efektif karena intensitas kecil dan tidak merata.
DLH Tarakan sendiri akan melakukan pemantauan kualitas udara ambien di Kantor Kelurahan Pantai Amal, Jumat siang, 21 Agustus. Alat aktif sampler dipasang karena membutuhkan listrik penuh dan harus mewakili kondisi area sekitar.
Parameter yang diuji meliputi PM 2,5, PM 10, PM 100, ozon, dan karbon monoksida. Untuk SO2 dan NO2, DLH menggunakan data dari stasiun AQMS karena kadarnya masih baik. Tiga petugas disiagakan selama 24 jam. Alat tidak boleh kena hujan karena akan merusak sampel debu.
“Jadi untuk pemantauan kualitas udara ambien itu akan kita lakukan nanti siang, insyaallah setelah salat Jumat. Kalau untuk pengambilan sampelnya 24 jam. Jadi kita mulai nanti mungkin sore, sampai dengan besok. Kemudian sampelnya akan dilakukan proses di lab. Mungkin hasilnya 24 jam kemudian. Jadi untuk sampel ini mungkin hari Minggu baru bisa keluar.” ungkap Khaizir.
Terkait kebakaran batu bara di jalan depan UBT yang berpotensi longsor, Khaizir menegaskan penanganannya butuh kajian teknis, bukan Amdal.
“Kalau terkait pengerukan itu mungkin kajian. Lebih tepat dikaji. Jadi isinya nanti mungkin berisi kajian-kajian teknis bagaimana antisipasi kebakaran yang diakibatkan oleh batu bara,” tegasnya.
DLH sudah turun ke lapangan dan menyerahkan kajian ke BPBD. Batu bara di lokasi seluas kurang lebih satu hektar itu bersifat aktif dan mengeluarkan panas. (Rajab).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....