Dari Cangkul ke Green House Pintar: Langkah Lukas Lahirkan Pertanian Digital

  • 21 Agt 2026 08:56 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, TARAKAN - Raut wajah Lukas Thomas (40) tersenyum lebar saat menunjukkan pertanian cabai rawitnya tumbuh subur dan banyak buahnya, Kamis (20/8/2026).

Hasil itu berkat kerja kerasnya beralih mengelola pertanian digital sejak pertengahan 2025. Lukas menanamnya di dalam green house pintar berukuran 10x12 meter, tepat di depan rumahnya di Jalan P. Aji Iskandar, Kelurahan Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara.

"Ini sudah berapa kali (panen)," ujar Lukas Thomas, ditemui saat berbincang santai dengan awak media di teras rumahnya.

Pria kelahiran Nunukan, 10 Mei 1986 ini mengaku tak pernah membayangkan bisa bertani serba digital.

Dulu, pria yang sudah dikaruniai 3 anak hasil pernikahannya dengan Emi, hanya bertani secara conventional. Pergi ke ladang lalu menanam dengan cangkul, menanam bibit hingga menyiram tiap hari, yang semuanya dikerjakan secara manual.

Belum lagi tingkat keberhasilan panennya sangat tergantung pada kondisi cuaca. Jika minim curah hujan seperti sekarang ini, harus ekstra rutin menyiram tanaman agar tidak rusak.

Namun, setelah dikenalkan cara bertani modern oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Lukas bisa lebih mudah mengelola pertaniannya.

Ia pun jadi petani pertama di Tarakan yang mengelola smart farming, menanam cabai dengan cukup hanya dipantau dari ponsel di genggaman.

Kisah Lukas mengelola pertanian digital ini berawal pada Desember 2024. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Tarakan membawanya bertemu pegawai KPwBI Kaltara.

“Saya nggak pernah kepikiran punya green house seperti ini. Mau minta aja nggak enak, biayanya besar,” kenang Lukas.

Awal 2025, ia kemudian diajak KPwBI Kaltara studi banding ke Jawa Barat, melihat langsung pertanian modern. Namun Lukas saat itu mengutus anggotanya untuk belajar.

Meski demikian, kesempatan terus datang kepadanya. Usai studi banding, tawaran KPwBI Kaltara kembali menghampiri untuk mengelola pertanian secara digital.

“Pak kita mau bikin green house. Ada lahan nggak?” kata Lukas mencontohkan tawaran tim dari tim KPwBI Kaltara ketika itu.

Lukas tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan menunjuk lahan kosong depan rumahnya. Gayung bersambut, KPwBI Kaltara menseriusi tawaran itu. Seminggu kemudian, bahan untuk pembuatan green house datang.

Bulan Juni 2025, green house yang ia taksir tidak sedikit nilainya, akhirnya berdiri. Lengkap dengan sistem Habibi Garden, sprinkle pendingin, drip irigasi, sensor PH tanah, semua terkoneksi ke ponsel. Dindingnya plastik UV. Dibangun hanya satu minggu oleh tim profesional dari Habibi Garden.

Cabai rawit menjadi pilihan utama untuk ditanamnya. Karena sesuai misi Bank Indonesia untuk menekan inflasi. Sebab cabai rawit sering menjadi penyumbang dominan.

Di awal musim tanam, Lukas tidak langsung menikmati hasil. Panen pertama medio September 2025, hasil yang dituai belum sesuai harapan. Hanya dapat 6 hingga 8 kilogram, dipakai konsumsi sendiri.

“Kita pakai polybag kecil. Cuaca Tarakan panas, cepat kering. Baru mau panen, mati,” kisahnya.

Tak menyerah, ia ganti ke planter bag besar. Media tanam lebih banyak, sehingga akar cabai bisa napas.

Selain itu, dengan menggunakan sistem Habibi Garden yang bekerja otomatis, pendinginan dilakukan setiap jam 12 dan jam 3 siang, drip irigasi menetes dari bawah. Semua diatur lewat aplikasi.

Sistem ini juga irit listrik. Ia hanya mengeluarkan Rp50 ribu perbulan. Sementara untuk Internet, cukup 3–4 GB, sudah bisa menjalankan.

“Kita di luar negeri pun bisa kontrol, asal ada internet,” tutur Lukas.

Cara itu berhasil. Pohon tumbuh lebih tinggi hingga 2,5 meter, dengan buah yang lebih banyak. Hasilnya, 2026 ia sudah empat kali panen.

"Lumayan, kita jual di Pasar (Juata) Korpri. Harga petani Rp60–70 ribu per kilo, di pasar bisa 110 ribu,” kata Lukas.

Meski demikian, Lukas mengakui, bertani digital bukan tanpa drama. Air jadi tantangan. Menurutnya, green house butuh air banyak. Ia mencontohkan di Batu, Malang, petani digital menyiram 8 kali sehari.

Bersyukur, selain mengandalkan air hujan yang ditampung dalam profil tank, Lukas juga memiliki sumur bor, meski pun airnya bercampur karah.

Selain itu, sistem Habibi Garden sangat bergantung pada keandalan listrik dan iternet. Apabila padam, sistem akan mati.

“Itu kendalanya. Makanya tetap harus siap manual. Pagi-sore saya siram pakai Sanyo,” ungkap Lukas.

Lukas sejatinya bukan petani baru. Sejak menikah tahun 2005 ia sudah berkebun dengan cara manual. Namun green house memberinya harapan baru.

“Enak aja di dalam. Ada daya tarik sendiri. Beda dengan kebun," kata Lukas.

Dengan di bawah naungan Kelompok Tani Tunas Mekar, ia mengelola pertanian digital ini dibantu anak angkat. Tiap pagi ia sisihkan satu jam untuk menyapu dan menyiram. Sore, sepulang dari kebun luar, ia kembali masuk green house.

Lukas sendiri masih punya obsesi lain. Ia berharap ke depan bisa mengembangkan juga tanaman yang lebih potensial di green house. Seperti manggis dan semangka yang memiliki nilai ekonomis dan bisa menjadi tulang punggung pendapatan.

Lukas yakin, digitalisasi adalah jalan pulang petani muda. Syaratnya tiga, air cukup, listrik stabil dan internet kencang. Jika lahan lebih besar lebih bagus lagi sehingga menghasilkan lebih banyak. Hanya memang butuh dana tidak sedikit untuk merealisasikannya.

Di tengah terik panas, Lukas menatap barisan cabainya yang bertahan di suhu ekstrem. Ia tahu green housenya belum sempurna. Terkadang error di aplikasi, masih harus siram manual saat mati lampu. Tapi baginya, ini langkah awal.

Mengulang pesan yang ia dengar di rapat dewan "the right man on the right place", bagi Lukas, tempat yang tepat itu kini ada di depan rumahnya. Di antara sensor, pipa drip dan notifikasi ponsel. Dari lahan 10x12 meter, ia membuktikan, petani Tarakan juga bisa pintar, bisa digital.

Dan siapa tahu, suatu hari dari green house kecil, lahir petani-petani milenial yang tak lagi takut kotor, karena bertani sudah semodern main game. Tinggal tanam, tumbuh lalu panen. (Rajab)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....