Kader Posyandu Diperkuat, UBT Dorong Pencegahan Stunting Berbasis Keluarga

  • 19 Agt 2026 10:29 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan – Pencegahan stunting tidak cukup hanya dilakukan ketika seorang anak telah mengalami gangguan pertumbuhan. Upaya yang lebih penting adalah mengenali faktor risiko sejak dini, memperkuat keluarga, serta memastikan kader posyandu memiliki kemampuan yang memadai untuk melakukan pemantauan dan pendampingan di tingkat masyarakat.

Pendekatan tersebut menjadi dasar pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026 yang dilaksanakan tim Universitas Borneo Tarakan bersama kader Posyandu Kelurahan Karang Rejo, Kecamatan Tarakan Barat, Kota Tarakan. Kegiatan mengusung tema “Penguatan Kapasitas Kader Posyandu melalui Pendekatan Terintegrasi Berbasis Keluarga untuk Mewujudkan Zero New Stunting.”

Ketua tim pelaksana, Sulidah, M.Kep., bersama anggota Dr. Nurasmi, M.Si. dan Ana Damayanti, MKM merancang kegiatan dengan menempatkan kader bukan hanya sebagai pelaksana kegiatan rutin posyandu, tetapi juga sebagai penggerak deteksi dini dan pendamping keluarga.

Berangkat dari Kondisi Nyata di Masyarakat

Kelurahan Karang Rejo memiliki potensi sekaligus tantangan dalam pencegahan stunting. Berdasarkan data awal program, cakupan pemantauan tumbuh kembang balita berada pada angka 56,11 persen, sementara cakupan ASI eksklusif sebesar 64,15 persen. Pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber protein hewani juga masih rendah, yakni sekitar 8,06 persen.

Di sisi lain, Karang Rejo merupakan wilayah pesisir yang memiliki potensi hasil perikanan. Kondisi tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan pendekatan pencegahan stunting yang tidak hanya mengandalkan edukasi, tetapi juga memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia di lingkungan masyarakat.

Ketua tim pelaksana, Sulidah, M.Kep saat menyampaikan paparannya. (Foto : RRI/UBT)

Dari Pengukuran Balita hingga KMS Digital

Pada aspek pemantauan tumbuh kembang, kader memperoleh pelatihan dan praktik langsung pengukuran berat badan serta panjang atau tinggi badan balita.

Pelatihan diarahkan agar kader mampu melakukan pengukuran secara lebih tepat sehingga hasilnya dapat digunakan sebagai dasar deteksi dini risiko gangguan pertumbuhan. Kader juga dilatih menggunakan KMS Digital/Online untuk membantu pencatatan data antropometri, membaca grafik pertumbuhan, serta mengenali balita yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.

PHBS, Pola Asuh, dan ASI Juga Menjadi Perhatian

Pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan makanan. Kondisi sanitasi, perilaku hidup bersih dan sehat, pola pengasuhan, dan praktik pemberian ASI juga mempunyai peran penting.

Karena itu, kader dibekali instrumen audit PHBS rumah tangga yang dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi masalah kebersihan dan sanitasi keluarga.

Pada aspek pola asuh dan ASI eksklusif, kader mengikuti pelatihan melalui diskusi kasus, dan simulasi. Pendekatan ini digunakan agar kader tidak hanya menyampaikan informasi secara satu arah, tetapi mampu membangun komunikasi yang lebih persuasif dan sesuai dengan kondisi ibu serta keluarga yang didampingi.

FROZEN-FISHNUT Manfaatkan Potensi Ikan Lokal

Salah satu bagian yang menjadi ciri khas program adalah pemanfaatan hasil perikanan lokal melalui pendekatan FROZEN-FISHNUT.

Pendekatan ini mengajarkan kader mengenai pemilihan bahan baku ikan, keamanan pangan, teknik pengolahan, pengemasan, dan penyimpanan beku. Dalam praktiknya, kader terlibat langsung dalam pembuatan produk olahan berbasis ikan lokal, termasuk nugget ikan.


Pengolahan FROZEN-FISHNUT Manfaatkan Potensi Ikan Lokal. (Foto : RRI/UBT)

Pemanfaatan ikan lokal ini diharapkan dapat menjadi salah satu cara praktis untuk meningkatkan penggunaan protein hewani dalam menu keluarga. Pendekatan tersebut sekaligus menghubungkan upaya pencegahan stunting dengan potensi sumber daya yang dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir.

Melalui program ini, kader diharapkan semakin mampu berperan sebagai penghubung antara pelayanan kesehatan dan keluarga. Pencegahan stunting pun dapat bergerak lebih dekat ke rumah tangga, dilakukan sejak faktor risiko muncul, dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat.

Program ini dilaksanakan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026 dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....