PM2,5 Mulai Naik, tapi Kualitas Udara Masih Kategori Baik

  • 11 Agt 2026 15:35 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan mengamati adanya peningkatan konsentrasi partikel di udara yang ditandai dengan munculnya kabut dan penurunan jarak pandang di langit Tarakan dalam dua minggu terakhir.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup serta Pengelolaan Keanekaragaman Hayati DLH Tarakan, Chaizir Zain menyebut kondisi tersebut mengindikasikan adanya partikulat bebas di udara.

“Berkait adanya tanda-tanda fisik dari udara itu yang mengindikasikan perubahan secara fisik. Kemudian asap dan juga yang mempengaruhi jarak pandang itu memang mengindikasikan ada semacam partikulat bebas yang berada di udara,” ujar Chaizir, Selasa (11/8/2026).

Berdasarkan data dari sistem Air Quality Management System dan Monitoring atau AKMS yang terhubung ke ISPU-NET, parameter PM2,5 beberapa kali tercatat di atas nilai normal.

PM 2,5 adalah partikel udara sangat kecil berukuran kurang dari 2,5 mikrometer (sekitar 30 kali lebih kecil dari rambut manusia).

Chaizir merinci, nilai normal PM2,5 berada di bawah 50. Sementara data terakhir menunjukkan angka 60 hingga 62, bahkan sempat mencapai 68.

“Alat pemantau kualitas udara secara online itu menunjukkan parameter PM2,5 itu pada beberapa waktu melebihi baku mutu. Di sini ini ada nilainya 60, ini menandakan partikulat atau debu yang berukuran 2,5 mikrometer itu beredar bebas di udara," jelas Chaizir.

Ia menambahkan, kenaikan ini dipicu oleh asap dari kebakaran lahan dan semak belukar yang mengering akibat minimnya curah hujan. Selain itu, bisa juga berasal dari debu di area lalu lintas dan aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar.

Meski mengalami kenaikan, Chaizir memastikan kualitas udara Tarakan saat ini masih berada pada kategori aman atau biru.

Sistem ISPU-NET membagi kategori dari biru, kuning tidak sehat, hingga merah. Batas untuk masuk kategori kuning adalah pada angka 70.

“Kalau dilihat dari nilainya ini masih cenderung aman karena indikatornya di sini masih biru. Kalau dia merah itu berarti udah kita perlu ada kewaspadaan lah terkait kondisi udara, tapi ini masih kondisi biru,” kata Chaizir.

“Tapi sebenarnya ini sudah kita harus lakukan upaya mitigasi lah untuk bagaimana mengembalikan nilai PM2,5 di udara itu bisa kembali ke kondisi normalnya,” tambah Chaizir.

Melihat tren kenaikan yang sudah berlangsung sekitar 1-2 minggu dan prakiraan BMKG yang menyebut cuaca masih kering beberapa hari ke depan, DLH mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar.

Data kualitas udara Tarakan secara real time dapat dipantau masyarakat melalui aplikasi ISPU-NET di Playstore yang datanya langsung terkoneksi dengan alat AKMS milik DLH Tarakan. (Rajab)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....