Karhutla Hanguskan Lahan di Tarakan, Agustus 4 Kali Terjadi
- 09 Agt 2026 20:55 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, TARAKAN : Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus mengancam Tarakan dampak potensi kemarau. Dalam bulan ini saja, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sudah 4 kali kejadian.
Kebakaran terbaru terjadi di kawasan Sungai Bengawan, dekat jembatan, Kelurahan Juata Permai, Tarakan Utara, Kamis (7/8/2026). Petugas BPBD bersama warga memadamkan api mulai pukul 23.00 malam hingga 06.00 Wita agi.
Kepala Pelaksana BPBD Tarakan, Yonsep, menyebut luas lahan yang terbakar diperkirakan lebih dari 6 hektare. "Yang diselesaikan kemarin itu 6 hektare. Tapi perkiraan teman-teman di lapangan itu lebih daripada 6 hektare," ujar Yonsep, Sabtu (9/08/2026).
Menurutnya, kondisi lahan yang terbakar bukan lagi hutan. Area tersebut sudah berupa semak dan rumput kering di lahan terbuka milik masyarakat.
Yonsep menjelaskan proses pemadaman memakan waktu lama karena medan. Petugas harus berjalan kaki sekitar 2 kilometer untuk masuk ke titik api. Kendaraan pemadam tidak bisa menjangkau lokasi.
"Kesulitannya lahan yang kering. Terus kendaraan kita tidak masuk. Jadi mesin portable kita dibawa, airnya juga kita yang bawa dan harus ditransfer dulu," katanya.
Untuk mengatasi minimnya sumber air, BPBD mendorong kelompok tani membuat kolam penampungan di setiap kebun. Program serupa sudah berjalan di daerah Sungai Kuli.
"Kita berharap yang buat kebun juga bisa bersama-sama membangun. Jadi kalau terjadi apa-apa kita bisa cepat eksekusi. Karena jalan mobil kita tidak bisa masuk sampai jarak 2 km itu," lanjut Yonsep.
Berdasarkan laporan di lapangan, kebakaran diduga dipicu aktivitas pembakaran oleh masyarakat. Namun hingga kini belum diketahui siapa pelakunya karena lokasi berupa kaplingan.
"Kalau berdasarkan informasi yang kita dapat di lapangan memang ada. Tapi kita tidak menemukan orangnya. Itu lahan masyarakat," jelas Yonsep.
Ia menegaskan pembukaan lahan memang tidak bisa dilarang. Tapi di musim kering seperti sekarang, pembakaran harus dilakukan secara terlokalisir dan diawasi.
Yonsep menyebut kekeringan membuat Tarakan semakin rawan. Ia mengimbau warga yang membuka lahan agar tidak membakar saat kondisi kering dan segera melapor jika melihat titik api. (Rajab)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....