Soroti APK Kaltara yang Rendah, UT Bisa Jadi Solusi
- 02 Agt 2026 19:08 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, TARAKAN : Hadir di Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) Universitas Terbuka (UT) Tarakan yang digelar di Auditorium Kantor BPK Perwakilan Kalimantan Utara (Kaltara), Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul, M.Kes menegaskan pentingnya memperluas akses pendidikan tinggi agar tidak tertinggal oleh jarak dan biaya.
Khairul menyoroti data Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi yang masih rendah, secara nasional berada di angka 32,98 persen. Sementara di Kaltara angkanya lebih kecil lagi, 27,93 persen.
“Artinya usia 19 sampai 23 tahun yang seharusnya kuliah, di Kaltara hanya sekitar 27,9 persen. Hampir 70 persen anak-anak kita belum bisa melanjutkan ke perguruan tinggi,” ujar Khairul.
Menurutnya ada dua persoalan klasik yang membuat angka itu stagnan. Yaitu jarak dan ekonomi. Anak-anak di pedalaman terkendala akses ke kampus. Lulusan SMA/SMK juga banyak yang langsung diminta membantu perekonomian keluarga.
“Dan yang bisa menerobos dua kendala itu hari ini adalah UT,” tegas alumni Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar ini.
Ia menjelaskan, model belajar di Universitas Terbuka memungkinkan mahasiswa tetap tinggal di kampung asal. Cukup ada jaringan internet atau modul yang dikirim, perkuliahan bisa berjalan. Pertemuan tatap muka hanya beberapa kali dalam satu semester, sekitar 8 kali.
“Jadi bisa sambil kerja bantu orang tua, tapi tetap kuliah. Ditambah UKT-nya juga lebih terjangkau. Ini yang kita butuhkan,” lanjut Khairul.
Hal menarik yang ia catat dari UT Tarakan tahun ini adalah perubahan komposisi mahasiswa. Jika dulu mayoritas adalah pekerja yang baru kuliah, kini 70 persen pendaftar adalah fresh graduate lulusan SMA dan SMK.
“Saya tanya langsung ke Pak Direktur UT, Pak Jeje. Ternyata yang masuk sekarang anak baru lulus. Ini kabar baik. Mudah-mudahan dengan begitu APK kita bisa terdongkrak,” ucap Khairul.
Ia juga mengajak mahasiswa melihat perbandingan regional. APK Malaysia sudah 43 persen, Thailand 49-50 persen, dan Singapura hampir 99 persen. “Jauh tertinggal. Padahal SDM ini kunci kalau kita ingin Tarakan jadi kota penyangga ibu kota provinsi yang maju,” katanya.
OSMB UT Tarakan kali ini menjadi penanda pergeseran, kuliah tidak lagi harus meninggalkan kampung halaman. Bagi Khairul, itulah cara paling realistis mengejar ketertinggalan SDM di perbatasan. (Rajab)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....