Edukasi Seksual Berbasis Usia Dinilai Krusial Cegah Penyimpangan Perilaku Anak

  • 30 Jul 2026 18:26 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, TARAKAN — Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Kalimantan Utara mendorong penguatan edukasi seksual berbasis tingkatan usia anak di lingkungan sekolah. Langkah ini dinilai sangat krusial sebagai bentuk pencegahan dini terhadap potensi penyimpangan orientasi seksual pada anak di daerah.

Pentingnya pemahaman ini disampaikan oleh Anggota HIMPSI Kaltara, Naswa Manurung, M.Psi., Psikolog, saat menjadi narasumber dalam program siaran Dialog Sapa Kaltara di RRI Pro 1 Tarakan. Menurutnya, pemahaman mengenai tubuh dan privasi harus dibentuk sejak awal agar anak memiliki benteng diri yang kuat.

Naswa menegaskan bahwa pendidikan seksual hingga saat ini kerap disalahartikan oleh masyarakat umum. Padahal, materi tersebut bukan merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan, melainkan sebuah kebutuhan dasar yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

"Jadi pendidikan seksual ini jangan dianggap tabu ya. Pendidikan seksual bahkan dari usia dini harus dikasih tahu nih, tapi cara ngasih tahu disesuaikan dengan perkembangan anak usianya," ujar Naswa dalam siaran Dialog Sapa Kaltara di RRI Pro 1 Tarakan.

Ia menjelaskan bahwa materi edukasi seksual harus disampaikan secara bertahap dan berjenjang. Pembelajaran tersebut dapat dimulai dari hal paling mendasar di tingkat Pendidikan Anak Dini Usia (PAUD), seperti mengenalkan nama-nama anggota tubuh secara tepat tanpa menyamarkannya.

Seiring bertambahnya usia anak, cakupan materi pendidikan seksual juga perlu disesuaikan dengan kapasitas pemahaman mereka. Metode berjenjang ini bertujuan agar informasi yang diterima anak tidak menimbulkan salah persepsi atau konsumsi informasi yang belum waktunya.

"Nanti kalau dia sudah SD akan dikasih tahu fungsi organnya, kalau SMP dikasih tahu organ seksual apa yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh. Itu akan beragam pendidikan seksualnya sesuai dengan usianya," lanjutnya.

Secara khusus, HIMPSI Kaltara juga meminta pihak sekolah dan orang tua, terutama yang bermukim di kawasan pesisir serta pinggiran Kota Tarakan, untuk lebih peka. Sinergi antara pendidik dan keluarga sangat dibutuhkan guna memantau serta mendeteksi adanya perubahan perilaku anak sejak dini agar mendapatkan penanganan yang tepat. (setya)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....