Ketua RT Diminta Sisir dan Laporkan Anak Berisiko Stunting

  • 21 Jul 2026 10:13 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., mendorong para Ketua RT untuk lebih aktif menjadi penyambung lidah sekaligus mata dan telinga pemerintah dalam menekan angka stunting.

Kehadiran Ketua RT dinilai sangat krusial, terutama di wilayah pesisir yang menjadi titik konsentrasi balita rawan gizi.

Dalam arahannya, Khairul mengungkapkan dinamika unik yang terjadi di Tarakan. Secara ekonomi, tingkat kemiskinan Tarakan terbilang sangat rendah — berada di bawah 5%, jauh di bawah rata-rata nasional yang berkisar di angka 15 pest.

Namun, hasil survei nasional sebelumnya sempat mencatat angka stunting Tarakan cukup tinggi, yakni menyentuh 25 persen.

"Hasil survei itu sempat membuat kita prihatin. Padahal angka kemiskinan kita rendah. Setelah ditelusuri, ternyata Tarakan sebagai kota terbuka menjadi tempat transit dan tujuan pencari kerja dari luar daerah yang membawa serta anak-anak mereka dalam kondisi kurang gizi," ujar Khairul.

Penelusuran lapangan menunjukkan bahwa data balita stunting banyak terpusat di kawasan pesisir, seperti Pantai Amal dan Selumit Pantai.

Selain faktor tingginya mobilitas pekerja pendatang, kondisi sosial masyarakat tempatan juga memengaruhi. Banyak anak-anak di daerah pantai yang kurang terperhatikan pemenuhan gizinya saat orang tua mereka pergi melaut dalam waktu lama.

Karena itu, pemerintah kota mengarahkan fokus pemantauan langsung ke kawasan-kawasan tersebut.

Shift Strategi: Dari Survei ke By Name, By Address.

Untuk membenahi akurasi data, Pemerintah Kota Tarakan kini meninggalkan metode penarikan sampel secara umum dan beralih ke pendataan langsung rumah ke rumah (By Name, By Address) melalui Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).

Hasilnya signifikan: angka stunting Tarakan berhasil ditekan drastis dari 25 persen hingga menyisa sekitar 8 persen.

Peran Kunci Ketua RT yang Diharapkan

Meski angka stunting sudah turun melampaui target nasional, dr. Khairul menegaskan bahwa penanganan tidak boleh mengendur. Di sinilah peran Ketua RT menjadi krusial.

Karena itu Ketua RT diminta aktif mendata warga atau pendatang baru di lingkungannya yang membawa anak balita, agar status gizinya segera terpantau puskesmas/posyandu.

Selain itu, mengedukasi dan memantau pola asuh balita di daerah pantai yang sering ditinggal orang tuanya bekerja di laut.

Ketua RT juga diminta menjadi jembatan komunikasi jika menemukan balita berindikasi kurang gizi agar segera mendapat intervensi dari petugas kesehatan.

"Petugas kesehatan tidak bisa bekerja sendiri tanpa laporan dari bawah. Kalau tidak ada laporan dari RT, kita tidak akan tahu. Dengan pendataan yang presisi dan kepekaan Ketua RT, kita pastikan tidak ada anak Tarakan yang tertinggal," pungkas Khairul. (Rajab)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....