Perubahan Sikap Siswa SRT 59 Tarakan Bikin "Iri" Orang Kaya
- 12 Jul 2026 04:22 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, TARAKAN - Perubahan signifikan yang ditunjukkan siswa-siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 59 Tarakan membuat sejumlah orang kaya menjadi iri.
Hal itu diakui Kepala SRT 59 Tarakan, Marisa Aulia. Perubahan paling kasatmata justru terlihat dari karakter dan kemandirian siswa.
Dijelaskan bahwa di SRT 59 Tarakan, anak-anak dikawal dengan disiplin ketat namun penuh kasih sayang—mulai dari bangun tidur pukul 04.00 WITA hingga kembali terlelap pukul 21.00 WITA. Dampaknya luar biasa.
Ketika para siswa dipulangkan pada masa liburan Desember lalu, lingkungan sekitar mereka terkejut melihat perubahan drastis.
Anak didiknya kini bisa bersikap lebih sopan dan menghargai perbedaan. Selain itu, mampu mengontrol emosi dengan baik dan santun kepada orang dewasa.
Tak hanya itu, mereka kini mandiri total. Anak-anak menolak bajunya dicucikan oleh ibunya. Mereka mencuci pakaiannya sendiri, bahkan ikut mencucikan baju anggota keluarga lain di rumah.
Perbaikan nutrisi dan intervensi kesehatan (seperti pengobatan penyakit kulit hingga penambalan gigi gratis bekerja sama dengan Puskesmas) membuat anak-anak tampak lebih bugar dan berisi.
Efek domino dari perubahan sikap ini memicu fenomena unik. Banyak orang tua mampu yang mengira SRT 59 adalah pesantren elite berseragam keren, hingga datang membawa mobil demi mendaftarkan anaknya secara berbayar.
"Ada orang kaya yang datang dan memaksa ingin bayar agar anaknya bisa sekolah di sini karena melihat perubahan perilaku anak tetangganya yang sekolah di SRT. Tentu kami tolak secara halus. Kami jelaskan ini sekolah khusus dan gratis bagi mereka yang bahkan tidak punya akses untuk menjangkau fasilitas gratis pemerintah," cerita Marisa tersenyum.
Meski mencetak banyak keberhasilan, perjalanan 9 bulan ini bukan tanpa kerikil tajam. Tantangan terbesar SRT 59 bukan pada kedisiplinan anak, melainkan pola pikir (mindset) orang tua.
Hingga satu bulan lalu, masih ada kasus anak yang terpaksa keluar sekolah karena ditarik kembali oleh keluarganya untuk berdagang.
Tantangan utama, orang tua kerap berpikir jangka pendek yaitu "Besok makan apa?". Bukan jangka panjang, "Bagaimana masa depan anak?"
Padahal, pemerintah melalui Kementerian Sosial telah menyiapkan skema bantuan komprehensif satu pintu untuk memutus rantai kemiskinan tersebut.
Modal Usaha PPSE: di mana orang tua dari siswa SRT diprioritaskan mendapat modal usaha senilai Rp5 juta (misalnya untuk jualan daster/kelontong) disertai pendampingan bulanan.
Selain itu, orang tua siswa yang rumahnya tidak layak huni berpeluang mendapatkan bantuan bedah rumah menjadi rumah sehat yang umum oleh Kementerian PU. (Rajab)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....