Sembilan Bulan SRT 59 Tarakan, Kemiskinan Ekstrem Tak Lagi Mengubur Bakat
- 11 Jul 2026 13:45 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, TARAKAN - Sembilan bulan lalu, mereka mungkin adalah anak-anak yang menghabiskan waktu di jalanan, membantu orang tua mengais rupiah, atau terisolasi dari akses pendidikan layak akibat jerat kemiskinan ekstrem.
Namun kini, di bawah atap Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 59 Tarakan, potret buram itu perlahan berganti menjadi optimisme yang luar biasa.
Kepala SRT 59 Tarakan, Marisa Aulia, mengungkapkan bahwa institusi yang dipimpinnya bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan sebuah ekosistem pemulihan martabat anak-anak dari kelompok Desil 1 dan Desil 2 (masyarakat miskin dan miskin ekstrem).
Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun berjalan, transformasi yang terjadi pada para siswa dinilai sangat masif dan di luar ekspektasi.
Salah satu temuan paling menyentuh adalah runtuhnya stigma bahwa anak-anak dari keluarga miskin ekstrem tertinggal secara intelektual.
"Banyak anak kami ternyata memiliki kemampuan akademik yang sangat baik. Selama ini potensi itu tenggelam semata-mata karena tergerus oleh kemiskinan," ungkap Marisa Aulia.
Melalui pendekatan Kurikulum Multi-Entry Multi-Exit, SRT 59 mampu menerima siswa kapan saja tanpa membuat mereka merasa tertinggal.
Keunikan kurikulum ini memberikan fleksibilitas tinggi bagi anak-anak yang sempat putus sekolah untuk menyesuaikan ritme belajar mereka kembali.
Saat ini, sekolah membina 63 siswa aktif yang terdiri dari 46 siswa SD (Kelas 1-5) dan 17 siswa SMP (Kelas 7-8). (Rajab)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....