Produksi Rumput Laut Tarakan Menurun, Ini Penyebabnya
- 11 Jun 2026 15:19 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Produksi rumput laut Tarakan mulai melandai sejak April 2026. Setelah puncak 2.734 ton di Maret, angka produksi April turun ke 2.465 ton.
Padahal produksi sempat stabil sejak Januari yang mencapai 1.651 ton, lalu naik di Februari 1.798 ton dan Maret 2.734 ton.
Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perikanan Tarakan, Husna Ersant Dirgantara, menyebut penyebab utama bukan hama, tapi cuaca yang tidak bersahabat.
“Penyebabnya stress lingkungan akibat fluktuasi cuaca ekstrem. BMKG catat curah hujan tinggi, siang panas 31 derajat, malam langsung hujan dingin. Itu bikin rumput laut stres,” jelas Husna, Rabu (10/6/2026).
Menurut Husna, fase paling rawan terjadi saat bibit baru diturunkan ke laut. Cuaca ekstrem bikin rumput laut langsung putih, rapuh, lalu patah.
Kondisi diperparah gagal panen masal pertengahan hingga akhir April karena serangan penyakit Ice-ice.
“Gagal panen paling banyak terjadi pertengahan April hingga akhir April saat bibit baru diturunkan ke laut. Jadi petani rugi di awal tanam,” kata Husna.
Paradoksnya, produksi turun tapi harga naik. Rumput laut kering bagus dari Rp17.000/kg naik ke Rp21.000/kg. Husna menyebut ini hukum pasar murni, permintaan dari industri China dan Eropa tetap tinggi, sementara stok Sulawesi dan Tarakan seret.
“Naik juga berarti itu salah satu sisi keuntungannya. Dulu juga waktu dolar naik, harga ikut naik. Tapi kalau harga turun karena permintaan juga turun. Sekarang permintaan meningkat karena kebutuhan industri,” jelas Husna.
Rumput laut Tarakan mayoritas dikirim ke Surabaya dan Pinrang, lalu diolah ke pabrik baru di ekspor.
Meski harga menguntungkan, Husna tetap mengingatkan petani jangan buru-buru tanam. “Kalau maksain tanam saat cuaca begini, yang ada gagal panen lagi. Lebih baik tahan dulu, tunggu kalender tanam dari kami,” tutup Husna. (Rajab)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....