Perkuat Sinergi, BI Gelar Capacity Building Opinion Maker se-Kalimantan di Malang
- 08 Mei 2026 15:20 WIB
- Tarakan
Poin Utama
- Bank Indonesia mengumpulkan pimpinan media dan akademisi se-Kalimantan untuk memperkuat literasi ekonomi dan kolaborasi dalam penyampaian informasi publik yang edukatif
- Peran media sebagai opinion maker yang kredibel, berbasis data, dan berimbang guna menangkal disinformasi di era digital
- Meningkatkan kapasitas tokoh publik (akademisi dan media) di Kalimantan agar mampu menjaga stabilitas informasi serta membangun optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan regional
RRI.CO.ID, MALANG – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Wilayah Kalimantan mengutus delegasi pimpinan perusahaan media dan akademisi mengikuti Capacity Building Opinion Maker guna memperkuat literasi ekonomi dan stabilitas informasi publik. Acara yang mempertemukan pimpinan media massa dan akademisi se-Kalimantan ini berlangsung selama empat hari, 5–8 Mei 2026, di Hotel Santika Malang.
Kegiatan strategis ini dirancang untuk menyelaraskan narasi komunikasi publik antara otoritas ekonomi, media, dan akademisi. Fokus utamanya adalah membangun optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah di tengah tantangan era digital yang dinamis.
Koordinator Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Kalimantan, Aloysius Donanto, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran opinion maker dalam menjaga stabilitas persepsi masyarakat. Menurutnya, kolaborasi ini adalah kunci untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi.
"Kami berharap melalui kegiatan ini tercipta penguatan kapasitas para opinion maker di Kalimantan. Sinergi antara Bank Indonesia, media, dan akademisi sangat krusial untuk memastikan informasi publik tetap konstruktif, edukatif, serta mampu mendorong optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi baik di tingkat regional maupun nasional," ujar Aloysius Donanto.
Hadir sebagai narasumber, Redaktur Pelaksana Majalah Tempo, Stefanus Pramono, membedah tantangan media dalam mempertahankan kredibilitas di tengah derasnya arus informasi dan disinformasi. Ia menekankan bahwa kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi.
"Di era digital saat ini, media memiliki tanggung jawab besar untuk tetap menjadi kompas informasi. Peran media sebagai opinion maker harus berpijak pada data yang kuat dan keberimbangan. Jangan sampai kita terjebak pada narasi yang hanya mengejar klik, tetapi abai terhadap dampak stabilitas informasi di masyarakat," tegas Stefanus Pramono.
Dari sisi akademisi, Guru Besar Universitas Brawijaya, Profesor Gunawan Prayitna, menyoroti pentingnya pendekatan ilmiah dalam penyampaian informasi ekonomi agar lebih mudah dicerna namun tetap memiliki kedalaman analisis.
"Sinergi antara dunia akademik dan media massa akan melahirkan diskursus publik yang berkualitas. Akademisi menyediakan kerangka teoretis dan data empiris, sementara media mengemasnya menjadi pesan yang dapat mengedukasi masyarakat luas. Kolaborasi ini adalah benteng utama dalam menghadapi tantangan ekonomi digital ke depan," jelas Prof. Gunawan Prayitna.
Selama empat hari, para peserta tidak hanya mendapatkan pemaparan materi, tetapi juga terlibat dalam diskusi intensif mengenai isu-isu terkini seperti inflasi, digitalisasi sistem pembayaran, dan pengembangan UMKM di Kalimantan.
Melalui kegiatan ini, Bank Indonesia berharap para pimpinan redaksi dan akademisi dapat menjadi mitra strategis dalam menyampaikan kebijakan-kebijakan ekonomi secara akurat, sehingga mampu meredam spekulasi negatif dan memperkuat kepercayaan pasar serta masyarakat terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....