Budaya Tidung dan Filosofi Mendalam Perahu Padaw Tuju Dulung

  • 12 Okt 2025 09:35 WIB
  •  Tarakan

KBRN, Tarakan : Festival budaya terbesar di Kota Tarakan, Iraw Tengkayu XIV, kembali memukau masyarakat pada 1–12 Oktober 2025.

Perayaan dua tahunan Suku Tidung ini tidak hanya menjadi pesta rakyat yang meriah, tetapi juga sarana untuk merawat dan menanamkan nilai-nilai luhur budaya. Puncak acara, yakni prosesi pelarungan Padaw Tuju Dulung, selalu menjadi magnet utama yang menyimpan filosofi mendalam.

Untuk mengupas makna di balik perayaan ini, khususnya simbolisme perahu adat, kami mewawancarai Tokoh Budaya Suku Tidung Kalimantan Utara, Datu Norbeck.

Ia dikenal atas dedikasinya selama puluhan tahun melestarikan tradisi Tidung, yang bahkan membuatnya meraih penghargaan dari Kemendikbud pada tahun 2019. Kehadirannya dalam setiap prosesi Iraw Tengkayu selalu memberikan penegasan akan pentingnya warisan leluhur.

Menurut Datu Norbeck, Iraw Tengkayu pada dasarnya adalah pesta syukur yang dilakukan Suku Tidung sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas rezeki dan kehidupan yang dilimpahkan.

"Iraw itu secara garis besar adalah pesta atau perayaan. Dalam konteks budaya Tidung, ini merupakan ungkapan rasa syukur dan sekaligus menjadi peringatan hari ulang tahun kota," jelasnya (10/10/2025).

Ia juga menekankan bahwa masuknya Iraw Tengkayu ke dalam Kalender Event Nusantara Kemenparekraf RI merupakan momentum besar untuk mempromosikan budaya Tidung ke kancah nasional.

Lebih lanjut, Datu Norbeck menjelaskan mengenai ikon utama festival: Perahu Padaw Tuju Dulung. Secara harfiah, "Padaw Tuju Dulung" berarti perahu dengan tujuh haluan.

Jumlah tujuh ini, menurutnya, melambangkan tujuh hari dalam satu minggu, siklus waktu yang terus berjalan dan dilalui oleh masyarakat, khususnya para nelayan Suku Tidung, dalam mencari rezeki di laut. Hal ini menunjukkan keterkaitan erat antara kehidupan, mata pencaharian, dan waktu.

Simbolisme perahu ini tak berhenti pada jumlah haluan. Datu Norbeck juga memaparkan bahwa perahu ini didominasi tiga warna utama: kuning, hijau, dan merah.

Kuning adalah warna yang paling dimuliakan, mewakili kehormatan; hijau mengandung makna keyakinan atau kepercayaan; sementara merah melambangkan ketegasan.

Padaw Tuju Dulung juga dilengkapi lima tiang yang tegak, melambangkan salat lima waktu dalam agama Islam, dan di bagian tengahnya terdapat meligay (rumah) yang memiliki empat pintu, mengartikan empat mazhab dalam Islam.

Melalui wawancara ini, Datu Norbeck berharap masyarakat, terutama generasi muda Tidung, dapat lebih memahami dan meresapi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap tradisi, khususnya Padaw Tuju Dulung.

"Melestarikan budaya adalah sebuah kepedulian. Ini bukan hanya konsep karangan, melainkan lahir dari pengalaman manusia secara turun-temurun. Harapan saya, Iraw Tengkayu dapat terus dijaga dan dikembangkan," tutup budayawan kharismatik ini.

Prosesi pelarungan Padaw Tuju Dulung di Pantai Amal hari ini (12/10/2025) menjadi penutup Iraw Tengkayu XIV, membawa serta doa dan harapan masyarakat untuk tahun-tahun mendatang. (*/Amr)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....