Mengkawatirkan, Pelecehan Seksual Dominasi Kasus Kekerasan Anak
- 30 Sep 2024 15:02 WIB
- Tarakan
KBRN, Tarakan: Kasus pelecehan seksual di Tarakan semakin mangkhawatirkan karena mendominasi jumlah kasus kekerasan pada anak sepanjang tahun ini yang telah mencapai 2 digit.
Data dari Dinas Pembedayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Tarakan, jumlah kasus kekerasan pada anak hingga September mencapai 84 kasus.
“Dari 84 kasus itu mayoritas dari pelecehan seksual, itu khusus anak. Beda lagi dengan perempuan,” beber Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada DP3AP2KB Tarakan, Rinny Faulina, Senin (30/9/2024).
Dijelaskan lebih lanjut, Dari jumlah itu, ada kasus persetubuhan. Ada juga kasus pelecehan seksual pada anak.
Korbannya adalah anak dengan berbagai kategori usia. Rinciannya di bawah 6 tahun ada 3 anak, usia 6 - 12 tahun ada 17 anak dan usia 12 - 17 tahun ada 58 anak.
Sedangkan untuk pelakunya dari berbagai kalangan. Ada yang berusia anak-anak. Ada juga orang dewasa.
Rinny juga menjelaskan penyebabnya yang beragam. Di antaranya karena termakan iming-imingan pelaku, ada juga yang tidak mengerti saat berhubungan badan karena anak berkebutuhan khusus.
Selain itu, ada juga karena suka sama suka. Mirisnya perbuatan tidak pantas itu justru dilakukan oleh siswa Sekolah Dasar (SD) hingga si perempuan hamil.
“Mirisnya kalau yang suka sama suka itu ada anak SD, (pelakunya) sama juga, anak SD,” tutur Rinny Paulina.
Menurut Rinny, pihaknya terus melakukan upaya pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat. Mulai dari menjelaskan kondisi di Tarakan saat ini, upaya yang mesti dilakukan orangtua terhadap anak, hingga peran sekolah dan masyarakat.
Dalam melakukan edukasi, pihaknya juga selalu menggandeng unit perlindungan anak dan perempuan Polres Tarakan untuk menjelaskan sanksi hukum yang akan didapatkan pelaku.
Terkait kasus pelecehan seksual yang disebabkan suka sama suka, Rinny menilai peran orangtua sangat dibutuhkan untuk mengawasi gerak-gerik anaknya. Terlebih jika selalu pulang larut malam.
Termasuk mewaspadai lawan jenisnya yang mengajak ke luar rumah. Menurut Rinny, meskipun sudah dikenal, namun tetap perlu diwaspadai. Karena gaya berhubungan anak-anak saat ini sudah kebablasan, sampai berani check in.
“Itulah kita ungkapkan fakta-fakta yang ada di lapangan kepada masyarakat supaya masyarakat bisa aware. Jadi sama anaknya juga bisa waspada. Okelah anak kita diberi kebebasan bergaul, tapi tetap orangtua juga menyampaikan batasan-batasan terhadap anaknya,” tutur Rinny. (Rajab)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....