Mengikis Sekat Perbedaan Melalui Aksi Berbagi
- 09 Mar 2026 11:59 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan – Program Dialog Ramadhan di Programa 1 RRI Tarakan menghadirkan Ustazah Dra. Hj. Maryam, sebagai narasumber dipandu penyiar Dhiti Angraini. Dalam Kesempatan itu Ustazah Maryam menekankan bahwa bulan suci Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga.
Lebih dari itu, Ramadhan adalah momentum untuk membangun harmonisasi dan memperkuat rasa empati terhadap sesama manusia tanpa memandang latar belakang.
Ia menyoroti fenomena indah yang terjadi di berbagai sudut kota, di mana organisasi masyarakat hingga anak-anak TK turun ke jalan untuk membagikan takjil. Tindakan ini disebut sebagai bentuk nyata harmoni Ramadhan. Pada saat berbagi, tidak ada sekat suku atau agama yang membatasi; semua bergerak atas dasar kemanusiaan dan kasih sayang.
Menurut Ustazah Maryam, ukhuwah atau persaudaraan Islam juga semakin erat melalui salat tarawih berjamaah. Di masjid, umat saling bertemu, mendoakan, dan memaafkan. Interaksi sosial yang hangat ini menciptakan energi positif yang membawa rezeki dan menghapuskan dosa bagi mereka yang menjalankannya dengan ikhlas.
"Dalam perspektif pendidikan jiwa (tarbiah), puasa melatih kepekaan sosial. Pengalaman emosional saat mengunjungi warga prasejahtera di Tarakan yang masih memasak menggunakan kayu bakar. Di tengah kemajuan teknologi seperti gas alam dan internet, ternyata masih ada tetangga kita yang kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,"Jelasnya.
Kesenjangan sosial ini, menurutnya, harus menjadi pemantik bagi umat muslim untuk mengulurkan tangan. Hati yang bertakwa secara otomatis akan tersentuh melihat penderitaan orang lain. Puasa menjadi madrasah yang mengajarkan kita untuk merasakan pedihnya rasa lapar yang dialami oleh saudara-saudara kita yang kurang beruntung.
Ustazah Maryam juga berpesan agar kedermawanan di bulan Ramadhan mencontoh Rasulullah SAW yang sangat pemurah. Saat bersedekah, sangat dianjurkan untuk memberikan barang atau makanan yang terbaik, bukan sisa atau seadanya. Kualitas sedekah mencerminkan kualitas iman dan rasa empati seseorang terhadap penerimanya.
Selain aspek berbagi materi, menjaga lisan juga menjadi poin penting dalam meraih keberkahan. Ia mengingatkan agar kaum perempuan khususnya, menghindari ghibah atau gosip selama berpuasa. Berkata kasar atau menghujat dapat menghapuskan pahala puasa, sehingga yang tersisa hanyalah lapar dan haus yang sia-sia.
Maryam mengajak seluruh masyarakat Tarakan untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum perbaikan hati nurani. Ketakwaan yang sesungguhnya bukan hanya menjalankan perintah dan menjauhi larangan secara tekstual, melainkan bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang bermanfaat dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.