Puasa Bukan Sekadar Lapar, Ustaz Andi Abdan Hafiz Bahas Spiritual Soul
- 26 Feb 2026 13:45 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Ramadan bukan hanya ritual menahan haus dan lapar, melainkan medan pertempuran antara jiwa spiritual (spiritual soul) dan ego yang rakus (hungry ego). hal itu terungkap Dalam program "Tauladan" di Programa 2 RRI Tarakan bersama Ustaz Andi Abdan Hafiz.
Ustaz Andi Abdan menekankan pentingnya memahami makna iman agar puasa tidak sia-sia. Beliau menyebutkan bahwa banyak orang terjebak dalam golongan yang hanya mendapatkan lapar saja tanpa pahala.
"Iman melibatkan tiga potensi besar dalam diri manusia: kalbu (hati), akal, dan perbuatan. Jika seseorang berpuasa dengan iman, maka seluruh anggota tubuh dan pikirannya ikut berpuasa dari hal-hal negatif. Sebaliknya, puasa yang didorong oleh hungry ego hanya akan fokus pada pemuasan nafsu sesaat, terutama saat waktu berbuka tiba,"Ungkapnya.
Dalam Obrolan tersebut, dijelaskan bahwa 10 hari pertama Ramadan adalah fase melatih empati melalui rasa lapar fisik. Fase ini bertujuan agar manusia bisa merasakan penderitaan sesama yang kekurangan. Setelah merasakan, manusia diminta untuk menggunakan akalnya pada 10 hari kedua guna memikirkan solusi bagi permasalahan sosial di sekitarnya.
Puncak dari perjalanan spiritual ini adalah aksi nyata pada 10 hari terakhir, seperti menunaikan zakat. Ustaz Andi mengingatkan bahwa perubahan perilaku setelah Ramadan adalah indikator keberhasilan puasa seseorang. Jika seseorang tetap kikir dan gemar memfitnah setelah bulan suci, maka puasanya mungkin hanya sebatas pemuasan ego perut.
Beliau juga menyoroti perbedaan doa antara orang beriman dan orang bertakwa. Orang bertakwa memiliki jiwa yang lebih luas, di mana mereka mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang pernah menyakiti mereka. Hal ini menunjukkan bahwa ego mereka telah tunduk di bawah kendali spiritualitas yang matang.
Diskusi ini juga menyentuh fenomena "balas dendam" saat berbuka puasa, di mana orang cenderung membeli semua makanan secara berlebihan. Perilaku ini disebut sebagai salah satu bentuk hungry ego yang harus dikendalikan. Puasa seharusnya mendidik manusia untuk menjadi pribadi yang lebih sederhana dan terkontrol.
Sebagai penutup, Ustaz Andi mengajak pendengar untuk menjadikan Ramadan sebagai momen transformasi jiwa yang sesungguhnya. Dengan terus belajar dan memaksakan diri dalam kebaikan, diharapkan setiap individu bisa kembali ke fitrahnya yang suci. Ibadah yang dipaksakan di awal akan berbuah keikhlasan di kemudian hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....