Ramadan Menjadi Momentum Transformasi Karakter Generasi Muda Gen Z

  • 24 Feb 2026 13:45 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan – Bulan suci Ramadan bukan sekadar tren gaya hidup atau "kalcer" semata, melainkan kesempatan emas untuk transformasi diri. Dalam program "Tauladan" RRI Tarakan, Ustaz Dr. Fahmi Syam menekankan bahwa bagi Generasi Z, Ramadan harus menjadi momen untuk meningkatkan kualitas keimanan melainkan hanya memperbarui status di media sosial. Pendekatan ini mengajak anak muda untuk tidak terjebak pada fenomena FOMO (fear of missing out), melainkan fokus pada pencarian validasi dari Sang Pencipta melalui perbaikan karakter yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena "Ramadan Kalcer" seringkali hanya diidentikkan dengan pamer pakaian baru atau sekadar ajang buka puasa bersama lintas alumni. Namun, Ustaz Fahmi mengingatkan bahwa esensi budaya Ramadan yang sebenarnya adalah perubahan perilaku dari yang tadinya sering mencari sensasi menjadi sosok yang berprestasi. Ramadan hadir sebagai sistem kendali bagi jiwa muda agar mampu menahan emosi, menghindari konten negatif, dan menghentikan kebiasaan memikirkan masa lalu atau overthinking yang tidak produktif bagi masa depan mereka.

Salah satu tantangan besar bagi Gen Z di era digital adalah keinginan untuk selalu eksis tanpa memahami urgensi dari perbuatan tersebut. Ustaz menyoroti pentingnya memiliki ilmu sebelum bertindak, agar setiap aktivitas di bulan Ramadan tidak sekadar mengikuti arus. Beliau menekankan bahwa mata, telinga, dan lisan akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga anak muda harus lebih selektif dalam mengonsumsi informasi dan menjaga etika berkomunikasi, baik di dunia nyata maupun di berbagai platform media sosial yang mereka gunakan.

Dialog interaktif dalam program ini juga mengupas tentang prioritas ibadah yang seringkali tertukar di kalangan anak muda saat ini. Banyak remaja yang begitu antusias mengikuti salat tarawih di masjid namun justru melalaikan kewajiban utama yaitu salat Isya. Ustaz Fahmi menjelaskan dengan tegas bahwa mendahulukan ibadah sunah dengan meninggalkan yang wajib adalah sebuah kesalahan fatal dalam beragama. Keindahan Ramadan harus dimulai dengan disiplin menjalankan kewajiban dasar sebagai fondasi utama sebelum menambah dengan amalan-amalan sunah lainnya.

Isu "flexing" atau pamer ibadah di media sosial juga menjadi perhatian khusus bagi generasi yang haus akan pengakuan ini. Meskipun niat awalnya mungkin untuk berdakwah, ada garis tipis yang memisahkan antara memotivasi orang lain dengan perilaku ria atau pamer. Ustaz menyarankan agar ibadah puasa dijadikan sarana melatih keikhlasan yang paling murni karena hanya Allah dan pelakunya yang tahu. Gen Z diajak untuk lebih mengutamakan kejujuran batin daripada jumlah pengikut (followers) atau apresiasi publik terhadap aktivitas spiritual mereka.

Bagi mereka yang masih merasa memiliki masa lalu yang kelam atau penuh kesalahan, Ramadan hadir bukan untuk menghakimi. Ramadan adalah undangan terbuka bagi setiap anak muda untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri melalui pintu tobat dan perbaikan diri. Perubahan besar bagi seorang Gen Z bisa dimulai dari hal kecil, seperti satu kali sahur yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Masa lalu boleh saja buram, namun masa depan masih sangat mungkin untuk disulam kembali dengan benang-benang ketaatan.

Kesimpulannya, remaja yang hebat bukanlah mereka yang paling viral di media sosial, melainkan mereka yang paling sadar akan tanggung jawab spiritualnya. Budaya Ramadan harus mampu mengubah tongkrongan menjadi tempat tadarus dan mengubah gengsi menjadi empati yang mendalam terhadap sesama manusia. Dengan menjadikan Ramadan sebagai momentum "reset" karakter, diharapkan Generasi Z dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih santun kepada orang tua, jujur di sekolah, dan menjadi teladan yang baik bagi lingkungan di sekitarnya. (Andrey R)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....