Ramadan Menjadi Madrasah Sunyi Bagi Jiwa yang Sibuk

  • 24 Feb 2026 13:26 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan – Dalam program "Tauladan" yang disiarkan oleh Pro 2 RRI Tarakan, Ustazah Haryanti, S.H.I., mengajak umat Muslim untuk memaknai Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan haus, melainkan sebagai sebuah "madrasah sunyi". Tempat di mana setiap individu diajak untuk menepi sejenak dari kebisingan dunia demi menyapa kembali jiwanya yang seringkali terabaikan oleh tumpukan kesibukan harian.

Setiap manusia memiliki titik lelah dalam menghadapi tuntutan hidup yang tinggi. Ustazah Haryanti menyoroti fenomena banyak orang yang dari luar tampak kuat dan selalu tersenyum, namun sebenarnya menyimpan kerapuhan dan luka di dalam hati. Ramadan, melalui momen-momen sunyinya seperti saat sahur, tahajud, dan tadarus, memberikan ruang privat bagi seseorang untuk jujur pada diri sendiri dan berdamai dengan segala kekecewaan yang pernah singgah.

Dalam madrasah sunyi ini, pengendalian diri menjadi kurikulum utamanya. Ramadan hadir untuk memfilter lisan dari ucapan yang sia-sia dan membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin. Ketenangan sejati, menurut Ustazah Haryanti, tidak ditemukan pada harta, jabatan, atau pasangan yang rupawan, melainkan muncul saat jiwa berhasil menemukan frekuensi yang sama dengan ketenangan yang diberikan oleh Sang Pencipta melalui zikir dan pendekatan diri yang intens.

Bagi mereka yang merasa hidupnya terlalu padat, seperti mahasiswa yang berjuang dengan skripsi sambil bekerja, Ramadan adalah pengingat tentang skala prioritas. Beliau menekankan bahwa waktu 24 jam yang diberikan Tuhan seharusnya bisa disisihkan sedikit untuk "mengistirahatkan" jiwa. Jika tidak mampu mengkhatamkan Al-Qur'an secara besar-besaran, satu lembar setiap selesai salat fardu sudah cukup untuk menjadi penawar bagi hati yang sedang gundah dan penuh tekanan.

Lebih dari sekadar menahan nafsu, Ramadan adalah waktu untuk "mengurangi dunia". Dengan mengurangi waktu tidur yang berlebihan, porsi makan, hingga aktivitas media sosial yang tidak bermanfaat, seseorang justru akan merasakan kelapangan hati yang luar biasa. Pengurangan aktivitas duniawi ini bertujuan agar cahaya kebaikan dan ilmu lebih mudah meresap ke dalam hati yang selama ini mungkin tertutup oleh debu-debu maksiat dan ambisi duniawi yang tak ada habisnya.

Sisi humanis Ramadan juga terlihat dari bagaimana bulan ini menghargai setiap tetesan air mata pertobatan. Ustazah mengingatkan bahwa tidak ada air mata yang sia-sia ketika seseorang mengadu tentang kelelahannya kepada Tuhan di sepertiga malam. Momen ini adalah terapi spiritual terbaik yang bisa didapatkan secara gratis, di mana beban hidup yang berat diletakkan sejenak untuk mendapatkan kekuatan baru dalam menghadapi hari-hari setelah Ramadan usai.

Sebagai penutup, pesan yang ingin disampaikan adalah menjadikan Ramadan tahun ini sebagai titik balik perubahan karakter. Perubahan sederhana seperti mengganti keluhan dengan syukur, atau mengurangi gibah dengan menambah sedekah, adalah bukti nyata bahwa seseorang telah lulus dari madrasah sunyi ini. Harapannya, setelah Ramadan berlalu, jiwa yang tadinya sibuk dan lelah kembali menjadi jiwa yang tenang, stabil, dan siap menebar kebermanfaatan bagi sesama manusia. (Andrey R)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....