Membangun Karakter Takwa Melalui Puasa dan Istighfar
- 19 Feb 2026 09:35 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Program "Renungan Ramadhan" RRI Tarakan menghadirkan Andi Abdan Hafez, S. Kom. yang mengupas tuntas rahasia mencapai derajat la'allakum tattaqun. Dalam paparannya, kunci utama untuk menjadi orang bertakwa adalah dengan memahami perbedaan antara puasa karena "perut" dan puasa karena "iman". Puasa karena iman akan membimbing seseorang menjaga seluruh panca inderanya.
Ia menguraikan bahwa niat yang tulus merupakan syarat mutlak agar ibadah tidak sia-sia. Sesuai dengan pengumuman pemerintah dan berbagai organisasi keagamaan, awal Ramadan 2026 disambut dengan penuh suka cita. Perbedaan waktu memulai puasa di tengah masyarakat tidak boleh menjadi pemecah belah, melainkan harus disikapi dengan niat yang sama-sama tulus mencari rida Allah.
Dalam perspektif syariah, Andi menjelaskan bahwa setiap perbuatan kebaikan akan dicatat sebagai amal jariah jika diawali niat yang benar. Hal ini berlaku untuk ibadah wajib maupun aktivitas duniawi yang diniatkan untuk ibadah. Keberkahan hidup sangat bergantung pada sejauh mana seorang hamba mampu merawat nikmat yang diberikan Allah melalui rasa syukur.
Salah satu poin edukasi yang ditekankan adalah pentingnya istighfar di waktu fajar. Ia mengajak para keluarga untuk tidak langsung beristirahat setelah sahur, melainkan meluangkan waktu sejenak untuk memohon ampunan.
"Waktu sahur bukan hanya tentang mengisi energi fisik, tapi juga tentang membersihkan jiwa dari kotoran dosa yang menempel selama setahun terakhir." Urianya.
Takwa juga didefinisikan secara mendalam sebagai tameng bagi moralitas masyarakat. Andi memberikan contoh bahwa seorang pemimpin yang takut kepada Allah tidak akan menelantarkan rakyatnya, dan seorang anak yang takut kepada Allah tidak akan durhaka. Takwa menjadi solusi bagi krisis moral yang mungkin terjadi dalam berbagai lapisan kehidupan bermasyarakat.
Ustadz Muda ini mengingatkan bahwa puasa berfungsi untuk mengatur, bukan sekadar melarang. Dengan berpuasa, umat Muslim diajarkan mengatur pola tidur, bicara, dan interaksi sosial agar lebih produktif dan bernilai ibadah. Semua aturan ini bermuara pada pembentukan pribadi yang disiplin dan tunduk pada perintah Allah secara istiqamah.
Tausiah ditutup dengan doa agar seluruh umat Muslim diberikan kekuatan untuk menjalani Ramadan hingga meraih kemenangan di hari Idulfitri. Menjadi hamba yang saleh dan saleha memerlukan perjuangan untuk terus menginterfeksi diri dan tidak membiarkan lingkungan buruk mengubah fitrah kesucian manusia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....