Bukan Balapan! Belajar Ultra Ajak Pesepeda Taklukkan Jarak dan Diri Sendiri
- 28 Agt 2026 21:12 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, TARAKAN — Di dunia bersepeda, angka sering menjadi bahasa utama. Berapa kilometer yang ditempuh, berapa kecepatan rata-rata, berapa banyak tanjakan yang ditaklukkan, hingga siapa paling cepat mencatat waktu terbaik.
Namun, Belajar Ultra datang dengan pertanyaan yang sedikit berbeda. Sebenarnya, apa yang kita pelajari ketika harus mengayuh sepeda begitu jauh?
Belajar Ultra merupakan event bersepeda yang membawa konsep perjalanan jarak jauh sebagai ruang edukasi. Peserta tidak hanya diajak mengejar garis finis, tetapi juga mengenal kemampuan diri, mengatur tenaga, mengambil keputusan, hingga menikmati proses ketika perjalanan mulai terasa panjang dan melelahkan.
Reza, selaku penyelenggara Belajar Ultra, mengatakan event ini sengaja dirancang bukan sebagai ajang adu cepat, melainkan sebagai pengalaman untuk mengenal diri sendiri melalui perjalanan bersepeda.
“Belajar Ultra itu bukan sekadar mengejar jarak atau kecepatan. Kita ingin belajar bagaimana menghadapi perjalanan panjang, mengenal kemampuan diri, mengatur tenaga, mengambil keputusan, dan menikmati proses selama perjalanan,” ujarnya.
Menurut Reza, konsep tersebut lahir dari keinginan menghadirkan pengalaman baru dalam dunia bersepeda, khususnya bagi yang ingin mencoba perjalanan jarak jauh dengan lebih mandiri.
“Tujuannya memberikan pengalaman baru dalam bersepeda, terutama bagaimana mempersiapkan dan menjalani perjalanan jarak jauh dengan lebih mandiri. Selain itu, kami juga ingin mempertemukan pesepeda dari berbagai latar belakang dalam satu pengalaman yang sama,” katanya.
Menariknya, Belajar Ultra tidak membatasi peserta berdasarkan jenis sepeda yang digunakan. Road bike, gravel, hybrid, MTB, touring, maupun sepeda jenis lainnya tetap memiliki kesempatan yang sama untuk ikut ambil bagian. Tentu selama sepeda tersebut layak dan aman digunakan untuk mengikuti rute.
Bagi Reza, perbedaan jenis sepeda justru menjadi bagian dari semangat event tersebut.“Yang diuji bukan siapa yang punya sepeda paling mahal, tapi bagaimana kita menjalani perjalanannya,” tuturnya.
Konsep ini sekaligus menjadi kritik kecil terhadap budaya bersepeda yang belakangan semakin lekat dengan angka, kecepatan, segment, dan persaingan.
Bukan berarti semua itu salah. Tetapi menurut Reza, ada sisi lain dari bersepeda yang tidak kalah penting untuk dirasakan. “Bersepeda sekarang kadang terlalu identik dengan angka, kecepatan, segment, dan perlombaan. Belajar Ultra ingin membawa kembali sisi lain dari bersepeda, yaitu perjalanan, pengalaman, kemandirian, dan interaksi dengan sesama pesepeda,” jelasnya.
Ketika jarak mulai menjauh dari rumah, pesepeda dipaksa berhadapan dengan dirinya sendiri. Kapan harus menambah tenaga, kapan harus menghemat energi, kapan harus berhenti, bahkan kapan harus mengakui bahwa tubuh membutuhkan waktu beristirahat.
Hal-hal sederhana itulah yang justru menjadi bagian dari perjalanan. Reza menyebut, ada pengalaman-pengalaman tertentu yang memang baru bisa dirasakan ketika seseorang berada jauh dari rumah dan harus mengandalkan kemampuan dirinya sendiri.
“Ada hal-hal yang memang baru bisa kita pelajari ketika berada jauh dari rumah dan harus mengandalkan diri sendiri,” ujarnya.
Pada akhirnya, garis finis bukan satu-satunya tujuan. Ada peserta yang mungkin pulang dengan catatan jarak yang panjang. Ada yang membawa cerita tentang tanjakan yang melelahkan. Ada pula yang mungkin menemukan teman baru di tengah perjalanan.
Namun, Belajar Ultra ingin peserta membawa sesuatu yang lebih dari sekadar angka di aplikasi bersepeda. “Harapannya, peserta pulang bukan cuma membawa catatan jarak atau waktu, tapi juga membawa pengalaman,” beber Reza.
Sebab, bersepeda tidak selalu tentang menjadi yang tercepat atau terkuat. “Kadang yang lebih penting adalah tahu kapan harus mendorong diri, kapan harus berhenti, dan bagaimana menyelesaikan perjalanan bersama,” tutupnya.
Belajar Ultra bukan tentang siapa yang paling hebat. Melainkan tentang apa yang kita pelajari sepanjang perjalanan. Karena dalam perjalanan panjang, yang diuji bukan cuma kaki. Mental, kesabaran, kemandirian, dan kemampuan untuk terus melangkah juga ikut dikayuh. (Andrie)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....