Keterbatasan Armada jadi Kendala, DLH Tarakan Dorong Pemilahan Sampah

  • 16 Agt 2026 12:59 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan angkat bicara terkait tumpukan sampah yang terjadi di Pasar Tenguyun. DLH menyebut keterbatasan armada menjadi alasan pengangkutan tidak bisa dilakukan setiap hari.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Tarakan, Yohanis K. Patongloan, menyampaikan jadwal pengangkutan kontainer di Pasar Tenguyun saat ini hanya 3 kali dalam seminggu.

Pasalnya jumlah armada pengangkut sampah terbatas. Sementara petugas harus melayani semua pasar di Tarakan.

“Pengangkutan kontainer di Pasar Tenguyun tentu kita sudah jadwakan hanya tiga kali satu minggu. Tentu kalau kami angkat tiap hari, tentu yang lain akan terganggu. Karena bukan cuma Pasar Tenguyun yang kami layani, semua pasar yang ada di kota Tarakan ini kita layani untuk persampahannya," ujar Yohanis, Kamis (13/8/2026).

Yohanis menilai, persoalan utama sebenarnya bukan pada jadwal angkut, tetapi tidak adanya pemilahan sampah dari pengelola pasar. Semua jenis sampah langsung masuk ke kontainer tanpa dipisah.

“Harapan kami juga dari pengelola Pasar Tenguyun melalui dinas kooperasi harusnya memberikan edukasi kepada pengelola sampah untuk memilah sampah. Sehingga yang kami ambil, yang kami angkut ke TPA-nya, redusinya saja. Tapi faktanya sekarang semua sampah pasar itu langsung masuk ke semua kontainer, tidak ada pemilihan,” harap Yohanis. .

Ia menyebut pemilahan adalah satu-satunya cara untuk mengurai penumpukan. Dari hasil pemilahan, sampah organik bisa diturunkan volumenya hingga 40 persen karena cepat terurai.

“Kalau terjadi pemilahan, saya kira sampah itu akan mengalami penurunan. Mungkin ada 40% terutama sampah-sampah yang organik, itu cepat habis. Sampah organik itu tentu untuk kompos kami dan kita sudah produksi kompos dari sampah-sampah organik,” kata Yohanis.

DLH telah menindaklanjuti surat dari DKUKMP untuk memberikan edukasi kepada petugas sampah di Pasar Tenguyun agar melakukan pemilahan anorganik dan organik sejak dari sumber.

Meski telah menambah satu kontainer di Pasar Tenguyun, Yohanis menyebut hal itu tidak akan menyelesaikan persoalan jika pola pembuangan tidak berubah.

“Walaupun hari ini ada kontainer kami, kami tambah satu kontainer, tapi itu tidak mengurangi persoalan. Kalau hanya dikasih masuk kontainer baru kami tarik tiap hari. Di sisi lain tentu dari BBM kami akan meningkat,” ujar Yohanis.

Ia juga meluruskan terkait retribusi. Sampai saat ini Pasar Tenguyun belum melakukan pembayaran retribusi ke Pemkot Tarakan. Berbeda dengan Pasar Gusher dan Pasar Beringin yang rutin membayar dan tetap dilayani 3 kali seminggu.

Menanggapi keluhan portal depo sampah cepat ditutup, Yohanis menjelaskan DLH sudah membuka akses pembuangan mulai pukul 06.00 WITA hingga 18.00 WITA setiap hari.

“Portal itu cepat kami tutup karena kita sudah buka mulai dari jam 6 pagi sampai jam 6 malam. Untuk menghindari terjadinya penumpukan sampah dan overload di depo. Kalau kita buka 1x24 jam semua sampah-sampah dari luar akan masuk semua di situ,” tegas Yohanis.

DLH juga telah menggeser lokasi depo di sekitar Pasar Tenguyun ke Rusunawa dan dekat SD 045 agar tidak berdekatan dengan Koperasi Merah Putih.

“Yang jelas, aturan yang sudah dibuat DLH itu 6 ke 6. Bertugasnya ada pengawas kita di situ. Tidak akan saya juga izinkan kalau tutup siang_,” pungkas Yohanis.

Ia berharap pengelola Pasar Tenguyun segera melakukan edukasi pemilahan sampah agar volume yang masuk ke TPA bisa dikurangi dan tidak terjadi lagi over kapasitas kontainer. (Rajab)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....