Bukan Sekadar Makan Gratis, MBG Jadi Strategi Intervensi Stunting di Daerah 3T
- 02 Jun 2026 23:05 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh pemerintah dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes., menyatakan bahwa program ini bukan sekadar pemberian makan cuma-cuma, melainkan instrumen penting untuk membentuk generasi yang sehat secara fisik dan cerdas secara intelektual.
Menurut Cellica, salah satu urgensi utama dari program MBG adalah untuk mengatasi ketimpangan akses gizi yang selama ini menjadi pemicu utama masalah stunting di berbagai wilayah Indonesia. Melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), negara hadir untuk memberikan intervensi gizi langsung kepada anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui, terutama di daerah yang sulit dijangkau atau kategori 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
"MBG ini menjadi salah satu solusi untuk daerah-daerah yang sulit dijangkau, dimana terdapat angka stunting yang cukup banyak. Kita melakukan pendampingan baik melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) maupun asupan gizi tambahan berupa makan bergizi gratis," ujar Cellica.
Selain dampak kesehatan, Cellica menyoroti peran program ini dalam meringankan beban ekonomi masyarakat. Kehadiran negara melalui penyediaan makanan yang telah ditakar gizinya oleh ahli gizi diharapkan mampu membantu keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi agar anak-anak mereka tetap mendapatkan nutrisi sesuai standar "Isi Piringku".
Meski memberikan manfaat nyata, Cellica memberikan catatan terkait perlunya optimasi kolaborasi di lapangan. Ia menilai koordinasi antara pemerintah pusat sebagai pembuat kebijakan dan pemerintah daerah sebagai pelaksana teknis masih perlu diperkuat untuk menghindari miskomunikasi. Evaluasi berkala terhadap regulasi dan pengawasan ketat menjadi kunci agar program jangka panjang ini dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.
Cellica juga menyarankan agar fokus anggaran saat ini lebih diprioritaskan pada pemerataan distribusi makanan dan penanganan di daerah dengan angka stunting tinggi, daripada pengadaan yang belum bersifat mendesak. Ia menekankan bahwa pembangunan SDM memerlukan waktu panjang, komitmen yang kuat, serta konsistensi dari semua pihak agar output yang dihasilkan benar-benar maksimal bagi masa depan bangsa.
Terakhir, ia mengingatkan bahwa peran keluarga, terutama literasi gizi seorang ibu, tetap menjadi fondasi utama dalam pencegahan stunting. Pemantauan tumbuh kembang anak sejak 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) hingga masa remaja harus menjadi perhatian bersama guna memastikan anak-anak Indonesia tumbuh menjadi pribadi yang berdaya saing global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....