Hari Bumi: Menakar Kekuatan Masyarakat Menjaga Ekosistem Tarakan

  • 24 Apr 2026 08:51 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan – Momentum peringatan Hari Bumi tahun ini menjadi ajang refleksi mendalam bagi pengelolaan lingkungan hidup di Kota Tarakan. Dalam Dialog Kentongan RRI Tarakan bertajuk "Our Power, Our Planet", para praktisi lingkungan menekankan bahwa kekuatan utama dalam menjaga kelestarian Bumi Paguntaka terletak pada sinergi antara kebijakan pemerintah dan kesadaran kolektif masyarakat di tingkat rumah tangga.

Pemerhati Lingkungan Hidup, Ir. Subono Samsudi, menyoroti bahwa masalah lingkungan di Tarakan bersifat dinamis, mulai dari pengelolaan sampah hingga pelestarian hutan lindung. Ia mengingatkan kembali pentingnya menghidupkan kembali inovasi-inovasi lokal yang pernah sukses, seperti "Tabungan Lingkungan" (Taling). Program ini dinilai efektif mengedukasi pelajar untuk memilah sampah sejak dini, sekaligus memberikan nilai ekonomis bagi mereka.

"Bumi bukan hanya kekuatan, tapi sumber kehidupan. Kita harus mulai dari hal kecil di rumah, seperti memilah sampah organik dan non-organik. Jika setiap keluarga melakukan pengomposan mandiri, beban sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) akan berkurang drastis," ujar Subono dalam dialog tersebut.

Senada dengan hal tersebut, Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan, Ahmad Satriansyah, mengakui bahwa pertumbuhan penduduk dan perluasan pemukiman menjadi tantangan nyata. Salah satu isu krusial adalah degradasi hutan kota dan kawasan resapan air (catchment area) yang memicu bencana longsor saat curah hujan tinggi.

"Kami terus berupaya melakukan penanaman kembali di lokasi kritis seperti rimba kota dan area pesisir melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari komunitas pemuda hingga instansi vertikal. Edukasi masif mengenai batas-batas hutan lindung juga terus diperkuat agar masyarakat tidak terjebak dalam pengerusakan lahan yang berisiko bencana," jelas Ahmad Satriansyah.

Selain masalah lahan, penanganan sampah di wilayah pesisir Tarakan juga menjadi perhatian serius. DLH mendorong masyarakat untuk tidak lagi menjadikan laut sebagai "tong sampah terbesar". Pengoptimalan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di tiap kelurahan menjadi strategi kunci untuk menekan polusi sampah plastik yang mencemari ekosistem mangrove.

Melalui edukasi ini, masyarakat Tarakan diharapkan tidak hanya bergantung pada penegakan hukum (law enforcement), tetapi mulai membangun budaya malu membuang sampah sembarangan dan aktif melakukan penghijauan di lingkungan terkecil. Keberlanjutan ekosistem Tarakan adalah investasi jangka panjang untuk menjamin kualitas hidup, ketersediaan air tanah, dan keamanan dari bencana bagi generasi mendatang. (ADR)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....