Menhut Dukung Konservasi Mangrove di Kaltara
- 06 Feb 2026 19:53 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Peringari Hari Lahan Basah Sedunia 2026, Menteri Kehutanan (Menhut) Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, mendukung penandatanganan komitmen kolaboratif pengelolaan dan rehabilitasi mangrove berkelanjutan di Kaltara.
Menhut didampingi oleh Gubernur Kalimantan Utara, (Kaltara) Dr. H. Zainal A. Paliwang, bersama jajaranya, organisasi internasional, dan sektor swasta berkumpul di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Tarakan, Jumat (6/2/2026).
Peringatan tahun ini dipusatkan di Kaltara, untuk mengakui peran penting provinsi di Utara NKRI ini sebagai penjaga ekosistem lahan basah Indonesia yang luas.
Kaltara merupakan rumah bagi 326,396 ha hutan mangrove dan 347,451 ha lahan gambut. Ekosistem lahan basah vital yang berfungsi sebagai penyerap karbon, habitat keanekaragaman hayati, dan penyangga alami terhadap erosi pantai maupun cuaca ekstrem.
“Saya berharap lahan basah ini tidak hanya tempat atau tanah yang basah, tetapi mengandung biodiversitas yang sangat tinggi sekali. Sumber ekonomi yang sangat baik sekali, sekaligus menjadi sumber untuk penyerapan karbon yang sangat tinggi sekali,” ujar Raja Juli Antoni.
Lahan basah provinsi ini juga berperan penting bagi mata pencaharian masyarakat lokal dan ketahanan pangan. Selain itu, untuk mencapai komitmen iklim nasional Indonesia dan tujuan lingkungan global.
Kunjungan Menhut juga meliputi penandatanganan deklarasi multi-pihak yang berkomitmen pada aksi terkoordinasi untuk konservasi dan rehabilitasi mangrove di seluruh Kaltara.
Para pihak yang terlibat antara lain Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara, mitra pembangunan dari Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), Program Forest Programme VI, Program NASCLIM yang diwakili Global Green Growth Institute (GGGI), PT Pertamina FP Tarakan Field, dan PT Mustika Minanusa Aurora Tbk.
Program M4CR dan NASCLIM di bawah naungan Kementerian Kehutanan bekerjasama dengan pemerintah daerah maupun masyarakat lokal untuk memulihkan ekosistem mangrove yang terdegradasi dengan berbagai metode. Di antaranya dengan penanaman dan regenerasi alami, sembari mendukung ketahanan ekonomi masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan mangrove.
Dibutuhkan kerangka kerja kolaboratif yang mengintegrasikan kebijakan pemerintah, partisipasi masyarakat, pembiayaan iklim, dan tanggung jawab korporat.
Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan, Ir. Dyah Murtiningsih, M.Hum, menjelaskan Hari Lahan Basah Sedunia menyoroti tema global yaitu menekankan pentingnya pengetahuan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam menjaga kelestarian lahan basah. Kemudian kepemimpinan Indonesia dalam pengelolaan lahan basah.
Pada akhir kegiatan, Menhut meninjau area KKMB Tarakan, mengamati keberadaan bekantan dan mempelajari upaya konservasi lokal. Kunjungan ini menyoroti peran KKMB sebagai laboratorium hidup untuk pendidikan, penelitian, dan keterlibatan masyarakat terkait lahan basah. (Rajab/sti)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....