Dinkes Tarakan Imbau Ibu Hamil Cegah KEK, Risiko Bayi Lahir Kecil dan Stunting

  • 05 Okt 2026 17:37 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Prevalensi balita stunting di Kota Tarakan tercatat 4,18 persen per Juni 2026. Meski angkanya rendah, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mengingatkan bahwa kekurangan gizi kronik tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi perkembangan otak anak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Devi Ika Indriarti, menjelaskan bahwa balita bertubuh pendek atau sangat pendek belum tentu mengalami gangguan perkembangan otak. Namun, apabila anak mengalami kurang gizi kronik, perkembangan otaknya dapat terganggu dan berdampak pada tingkat kecerdasan atau IQ.

"Kalau kurang gizi kronik, itu akan memengaruhi perkembangan otak dan mengganggu IQ-nya. Karena itu perlu dilakukan pemeriksaan oleh dokter spesialis anak," ujarnya.

Devi menyebut, sejauh ini belum ditemukan balita kategori pendek maupun sangat pendek di Tarakan yang terbukti mengalami penurunan IQ. Meski demikian, hal itu tidak boleh membuat semua pihak lengah.

"Tetap menjadi kewaspadaan," katanya.

Devi juga mengimbau para ibu hamil agar menjaga kondisi kehamilannya, terutama menghindari kekurangan energi kronik (KEK). Salah satu indikatornya adalah lingkar lengan atas (LiLA) yang kurang dari 23,5 sentimeter.

Menurut dia, ibu hamil dengan LiLA di bawah ambang tersebut berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir di bawah 2.500 gram. Kondisi itu selanjutnya meningkatkan risiko bayi mengalami stunting.

Dengan demikian, pencegahan stunting menurut Dinkes Tarakan perlu dimulai sejak masa kehamilan, tidak hanya setelah anak lahir. (Dinda)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....